Misi Kemanusiaan Itu Kandas

Kompas.com - 01/06/2010, 06:43 WIB

KOMPAS.com — Perjalanan armada kapal kebebasan dari Siprus menuju Jalur Gaza ternyata kandas di tengah jalan. Israel tidak berkompromi, bahkan menggunakan kekerasan untuk mencegah konvoi kapal kebebasan itu mencapai pelabuhan Jalur Gaza.

Armada kapal kebebasan terbesar itu sudah dipersiapkan lama, sejak akhir tahun 2009. Anggota parlemen Inggris pro-Palestina, George Ghalawi, pada Desember 2009 mengungkapkan, kelompok loyalis Palestina mancanegara mempersiapkan konvoi perjalanan terbesar menuju Jalur Gaza melawan blokade Israel yang melanggar hukum internasional.

Ghalawi sendiri pernah menggalang konvoi 250 kendaraan yang disebut "konvoi penyambung hidup 3" untuk menembus blokade Jalur Gaza pada Desember 2009. Konvoi pimpinan Ghalawi itu sempat bermasalah dengan Pemerintah Mesir karena Mesir tidak setuju dengan rute konvoi tersebut yang akan melalui Pelabuhan Aqaba di Jordania, kemudian masuk ke Gurun Sinai Selatan, lalu menuju Jalur Gaza. Mesir saat itu meminta konvoi tersebut masuk lewat pelabuhan kota Al Arish di Sinai Utara, lalu ke Jalur Gaza. Ghalawi saat itu menyetujui permintaan Mesir.

Ada empat misi melawan blokade Jalur Gaza melalui laut sejak wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa itu dikenai blokade total menyusul Hamas mengambil alih kekuasaan secara penuh pada Juni 2007.

Misi pertama yang dilakukan pada masa pemerintahan PM Israel Ehud Olmert sukses memasuki Jalur Gaza. Namun, pemerintahan PM Benjamin Netanyahu yang didukung kubu garis keras kini tidak mau berkompromi dengan misi serupa berikutnya.

Adapun konvoi kapal kebebasan itu memang dirancang menembus Jalur Gaza melalui laut. Pemerintah Turki dan lembaga-lembaga kemanusiaan di sejumlah negara Eropa mendukung pembentukan konvoi kapal kebebasan itu.

Dalam persiapan yang memakan waktu sekitar enam bulan itu akhirnya terbentuk misi melawan blokade Jalur Gaza dengan nama "armada kapal kebebasan" yang didukung sejumlah lembaga kemanusiaan dari mancanegara.

Anggota inti armada kapal kebebasan itu di antaranya Koalisi Gerakan Pembebasan Gaza (FG); gerakan kampanye Eropa untuk mengakhiri blokade Gaza (ECESG) yang berbasis di Brussels, Belgia; Insani Yardim Vakfi Turki (IHH); organisasi kapal perdamaian Perdana Global Yunani; Gerakan Kapal Menuju Gaza Swedia, Komite Internasional bagi Pencabutan Blokade atas Gaza yang berbasis di Swiss; dan beberapa lembaga kemanusiaan dari Kuwait dan Aljazair.

Belakangan ada MER-C dari Indonesia yang ikut bergabung dengan armada kebebasan itu. Delegasi Kuwait membawa dana bantuan sebanyak 1,1 juta dollar AS untuk misi armada kapal kebebasan itu.

Armada kapal kebebasan itu mulai berlayar menuju Jalur Gaza pada hari Jumat (28/5/2010). Armada kapal tersebut bertolak dari kota Antolia, Turki, dan Yunani. Perjalanan armada kapal kebebasan itu sempat terhenti selama dua hari di lepas pantai Siprus karena masalah teknis.

Armada kapal kebebasan itu sedianya dicanangkan terdiri dari delapan kapal, yaitu kapal kargo yang didanai Kuwait, kapal kargo yang didanai Aljazair, kapal kargo yang didanai Swedia dan Yunani, kapal kargo yang didanai Irlandia, serta empat kapal penumpang yang membawa sekitar 700 aktivis dari 40 negara.

Anggota parlemen ikut Namun, dua kapal yang disewa dari Irlandia mengalami kerusakan sehingga tidak bisa datang. Akhirnya konvoi kapal kebebasan itu terdiri dari enam kapal. Dari kapal-kapal yang berangkat itu adalah kapal Mavi Marmara berbendera Turki yang terbesar dan mengangkut sekitar 600 aktivis.

Adapun kapal-kapal kargo itu membawa lebih dari 10 ton bahan medis, bahan bangunan, serta kayu dan rumah jadi untuk membantu penduduk yang kehilangan rumah akibat invasi Israel ke Jalur Gaza, 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009.

Para aktivis yang ikut serta dalam konvoi kapal kebebasan itu adalah 44 anggota parlemen dan tokoh politik dari Eropa dan Arab, di antaranya anggota parlemen dari Aljazair dan Kuwait.

Ada pula Wakil Ketua Gerakan Islam di Israel Sheikh Raid Salah yang diberitakan mengalami luka-luka, 16 delegasi Kuwait, dan diberitakan ada juga 12 WNI.

Menurut berita yang dikutip situs internet sejumlah media dari Indonesia, ke-12 WNI itu terdiri dari tiga lembaga swadaya masyarakat, yakni Kispa, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dan Sahabat Al-Aqsha. Bergabung pula dalam rombongan itu lima wartawan Indonesia dari Al Jazeera Indonesia, TV One, Hidayatullah.com, majalah Alia, dan Sahabat Al-Aqsha. (MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau