Karet Ban Diekspor, Perajin Sandal Khawatir

Kompas.com - 01/06/2010, 12:58 WIB

BANYUMAS, KOMPAS.com- Maraknya ekspor karet ban bekas ke Korea Selatan dan China meresahkan perajin sandal bandol di Banyumas, Jawa Tengah. Pasalnya, harga karet ban bekas menjadi naik dua kali lipat dan ketersediaannya menjadi jauh berkurang. Selain itu, penjualan bahan baku sandal ke China tersebut kian membuat daya saing produk sandal lokal dengan China keteteran.

Ali Makruf (31), perajin sandal bandol dari Kampung Kebanaran, Kecamatan Purwokerto Barat, Banyumas, Selasa (1/6/2010), menuturkan, sejak akhir 2009 lalu harga karet ban bekas naik dari Rp 2.000 per kilogram menjadi Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogram.

"Bukan itu saja, sekarang untuk mendapatkannya pun juga susah. Saya tanya ke distributor katanya stok memang sekarang berkurang karena banyak yang diekspor ke Korea Selatan dan China. Otomatis ini membuat produksi sering terganggu," kata Ali.

Karet ban bekas merupakan bahan baku utama sandal bandol (kepanjangan dari ban bodhol) industri sandal di Kebanaran, Banyumas tersebut. Ada sekitar 40 perajin skala kecil di kampung sandal bandol ini. Tiap perajin memperkerjakan 12 sampai 25 tenaga kerja.

Penjualan sandal bandol khas Banyumas tersebar hingga ke luar Jawa seperti Makassar, Banjarmasin, Denpasar, Lampung, Palembang, Samarinda, Lombok, dan Kupang. Selain itu, mereka juga mengandalkan pasar kota-kota di Jawa seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Surabaya.

Syarifuddin (53), perajin sandal bandol lainnya, menuturkan, mahal dan langkanya bahan baku membuat produksi sandal tersendat. Terkadang saat perajin membutuhkan, stok karet ban bekas tak ada. Namun, saat permi ntaan sepi, stok ada dengan harga yang lebih dari dua kali lipat.

"Saya tidak tahu siapa yang seharusnya mengatur harga bahan baku. Saya hanya berharap pemerintah bisa turun tangan menangani masalah ini karena bahan baku ban bekas sangat penting bagi kami," papar dia.

Lebih jauh Ali mengatakan, penjualan karet ban bekas ke Korea dan China sangat mengkhawatirkan bagi perajin sandal lokal seperti dirinya, khususnya ke China. Sejak kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China ditandatangani, sandal-sandal murah dari China menyerbu pasar dalam negeri.

"Harus kami akui, pengaruh masuknya sandal China sangat besar. Bayangkan saja, satu kodi sandal bandol lokal dijual Rp 180.000. Padahal, sandal serupa dari China hanya Rp 140.000 sampai Rp 150.000 per kodi. Saya tidak tahu bagaimana bisa mereka menjual dengan harga semurah itu," kata Ali.

Dengan maraknya penjualan karet ban bekas dari Indonesia ke Korsel dan China, kekhawatiran perajin sandal lokal pun kian besar. Dengan bahan baku yang melimpah, China dapat menjual sandal dalam jumlah lebih banyak ke Indonesia dengan harga yang tentu lebih murah. Di pihak lain, perajin lokal kian terperosok.

Heri Susanto, distributor ban bekas di Purwokerto, mengungkapkan, permintaan ban bekas dalam beberapa bulan terakhir meningkat drastis. Dia mengakui adanya indikasi penjualan ke luar negeri, terutama Korsel. " Itu yang melakukan pedagang dari kota-kota besar. Saya hanya menyediakan stok saja," kata dia.

Mengenai kenaikan harga, menurut dia hal itu karena dampak kenaikan biaya transportasi dan naiknya harga ban baru. Akibatnya, harga ban bekas pun ikut terkatrol.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau