Sehatkan Partai Politik

Kompas.com - 02/06/2010, 03:18 WIB

Jakarta, Kompas - Penyehatan partai politik sangat mendesak dilakukan karena menjadi kunci perbaikan bangsa. Budaya politik uang dalam parpol menjadi penyebab utama dekadensi moral dan rendahnya orientasi pada kepentingan masyarakat. Politisi sekarang dinilai bermental ikan lele.

Demikian benang merah dari Seminar Nasional Pendahuluan tentang Restorasi Indonesia yang diadakan Nasional Demokrat dalam sesi ”Visi Masa Depan Negara-Bangsa Indonesia”, Selasa (1/6). Hadir sebagai pembicara, anggota DPR, Siswono Yudo Husodo; Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat; dan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif.

Penyehatan partai politik (parpol) adalah kunci untuk menuju bangsa yang lebih baik. Pasalnya, parpol sebagai salah satu komponen bangsa selain pendidikan, industri, dan birokrasi seharusnya memberikan masyarakat orang-orang terbaik untuk pelayanan publik. ”Itu tugas parpol,” kata Siswono.

Menurut Komaruddin, parpol seharusnya melakukan state- building (mengonstruksi fungsi negara). Saat orde baru, hal ini telah mulai dilaksanakan. Namun, menjelang masa reformasi, terjadi pembusukan. Sayangnya, kapasitas anggota parpol belum cukup untuk melakukan hal ini. ”Mereka hanya mengandalkan popularitas, selebriti, atau dengan menggunakan simbol agama. Padahal, mengatur bangsa itu tidak butuh popularitas,” kata Komaruddin.

Sementara itu, parpol harus bisa melakukan pendidikan politik kepada masyarakat sehingga masyarakat punya semangat kewarganegaraan dan kesadaran politik. ”Yang mencolok, kita kurang merasa sebagai orang Indonesia. Kita lebih merasa sebagai warga NU, warga Muhammadiyah, warga gereja, dan sebagainya,” kata Komaruddin.

Sayangnya, yang terjadi saat ini, parpol tidak berfungsi sesuai dengan harapan. Parpol terjerumus dalam politik uang. Selain itu, rekrutmen parpol juga tidak mengambil orang-orang yang ideal. Hal ini menimbulkan masalah lain, yaitu terjadi dekadensi moral elite politik yang tidak sadar kalau tindakan mereka kemudian menjadi pendidikan masyarakat. ”Coba lihat koruptor yang divonis ringan, keluar dari pengadilan senyum-senyum,” kata Siswono.

Syafi’i Ma’arif juga menyatakan kekecewaannya terhadap politisi. ”Saya ingin mengutip seorang jenderal teman saya yang mengatakan, politisi sekarang itu mental lele, makin keruh keadaan, makin banyak makannya,” katanya.

Menurut Syafi’i inilah gejala dari kultur politik yang kumuh, di mana pragmatisme dan hedonisme yang merajai. Para politisi hanya memperjuangkan golongan dan kepentingan jangka pendek. Ia menyoroti praktik politik uang yang hampir merata dan vulgar. Ia menunjukkan demokrasi yang terpasung oleh kepentingan penguasa dan pengusaha.

JK tampil

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kala menegaskan, kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada pemimpinnya. Ia menekankan kembali, demokrasi merupakan alat untuk mencapai kesejahteraan itu. ”Unjuk rasa belum tentu tanda demokrasi bila itu mengganggu kepentingan orang lain. Menggunakan pengeras suara berlebihan juga bisa mengganggu kepentingan orang lain,” ujar Jusuf Kalla yang muncul dengan daya tarik tersendiri. (OSD/EDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau