KOMPAS.com — Sehabis menyerang rombongan kapal aktivis untuk pengiriman bantuan ke Gaza, Israel pada Senin (31/5/2010) mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya cuma membela diri. "Soalnya, kami diserang lebih dahulu dengan pisau dan 'senjata'," kata pihak Israel.
Sehari berselang, lain lagi cerita asal-muasal kekerasan itu. Seorang aktivis asal Jerman bernama Norman Paech yang mengaku berada di atas kapal Mavi Marmara, kapal di barisan depan rombongan, mengatakan bahwa dia cuma melihat tongkat-tongkat kayu. Benda itu dipakai untuk menghalau tentara Israel yang tiba-tiba datang dan melakukan penembakan. "Jadi, apa yang dikatakan Israel bukanlah tindakan membela diri," kata Paech setibanya di Berlin.
"Saya pribadi hanya melihat tiga tongkat pemukul digunakan. Tidak ada lagi yang lain. Kami tidak pernah melihat pisau sama sekali," ujarnya.
Simak juga cerita aktivis asal Turki, Bayram Kalyon. Ia juga mengaku menumpang Mavi Marmara. Menurut dia, kapten kapal naas itu mengatakan kepada penumpang bahwa militer Israel lebih dahulu menembak secara acak. Militer itu kemudian memecahkan kaca jendela dan memasuki kapal. "Para penumpang harus keluar dari kapal ini," begitu kata Kalyon mengutip pembicaraan terakhir dengan kapten.
Nah, di Nazareth, ternyata ada Haneen Zuabi. Ia adalah anggota parlemen Israel keturunan Arab. Zuabi juga mengaku menumpang Mavi Marmara. "Pasukan Israel mulai menembak saat mereka masih berada di dalam helikopter yang membuntuti kapal," kata Zuabi sebagaimana media massa Reuters, AP, dan AFP mewartakan, Selasa (1/6/2010).
Alhasil, memang belum ada verifikasi rinci dan obyektif soal klaim siapa yang lebih dahulu melakukan kekerasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang