JAKARTA, KOMPAS.com - Turunnya pasar otomotif Indonesia Mei lalu sebagai sengatan sejenak bagi para produsen. Diprediksi, pasar bakal tumbuh lagi bahkan siap menyalip Thailand. Pemicunya, pemprov DKI Jakarta menunda kenaikan pajak kendaraan (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN) dan inilah yang membuat optimis para pelaku industri otomotif.
Wakil Ketua Dewan Pembina Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Prijono Sugiarto mengatakan, situasi kondusif akan menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi Indonesia meningkatkan pasar. Selama likuiditas bisa terjaga pasar mobil bisa mencatatkan rekor terbaik.
"Tahun ini memang diprediksi Indonesia akan melampaui pasar Thailand. Salah satu faktor penunjangnya, pajak tak jadi naik," ujar Prijono di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, (1/6/2010).
Wakil Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan Danusasmita menambahkan, Thailand tahun ini menargetkan pasar domestiknya mencapai 710.000 unit. Uniknya, Kerusuhan kemarin (di Thailand) tak berpengaruh pada penjualan mereka.
"Toyota saja berhasil menjual 28.000 unit bulan lalu, padahal kondisi di Bangkok lagi seperti itu (rusuh). Ini kan luar biasa," ujar Johnny yang juga Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor.
Diprediksi, pasar mobil nasional sedikitnya akan mencapai 650.000 unit tahun ini, atau menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sepanjang Januari sampai April pasar mobil Indonesia sudah mencapai 239.306 unit.
"Jika ditambah Mei 60.000 unit, berarti sudah 299.306 unit, kan belum melihat Juni, bisa saja kita kejar Thailand, tapi perlu ngegas sedikit," tambah Prijono.
Dihubungi terpisah, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor Jonfis Fandy menambahkan, berdasarkan prediksi Honda jika tak ada kondisi yang menekan, pasar mobil bisa menyentuh angka 700.000 unit tahun ini.
"Kapasitas produksi HPM tahun ini akan mencapai kapasitas maksimum, sedikitnya 47.000 unit. Kita akan menambah lembur satu atau dua hari, sepanjang yang diperlukan untuk mencapai permintaan," jelas Jonfis.
Belum Revisi Terkait dengan penundaan kenaikan pajak kendaraan di DKI Jakarta, Gaikindo kembali ke target awal menjadi 650.000 unit naik dari revisi sebelumnya 580.000 sampai 600.000 unit untuk tahun ini. Sudirman Maman Rusdi, Ketua Umum Gaikindo menambahkan, hingga kini belum ada revisi target dari Gaikindo.
"Angkanya kembali ke 650.000 unit, kita lihat kondisi di Juni kalau membaik bisa saja kita tingkatkan lagi," jelas Sudirman.
Sementara itu, Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengungkapkan, penundaan kenaikan pajak justru akan mendongkrak penerimaan negara. Sebab, volume penjualan bertambah, sehingga memacu penerimaan dari sisi pajak pertambahan nilai (PPN).
"Saya sependapat dengan Gaikindo, kami merevisi target penjualan dari 600 ribu unit menjadi 650 ribu unit. Saya sudah mengusulkan agar penundaan pajak progresif dibarengi dengan penundaan kenaikan PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah)," pinta Budi.
Selain menambah penerimaan negara, penundaan pajak juga akan merangsang produsen mobil menambah kapasitas. Hal ini, kata Budi, akan mendorong pertumbuhan industri komponen, baik di tier kualitas komponen) satu maupun di tier dua.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang