Haruskah Anak Belajar Bahasa Asing Sedini Mungkin?

Kompas.com - 02/06/2010, 11:38 WIB

KOMPAS.com - Di era globalisasi seperti sekarang, kita bisa menemukan berbagai istilah bahasa Inggris dimana-mana. Bahasa Inggris ini begitu merasuk dalam kehidupan kita sehingga banyak anak kini juga aktif menggunakannya. Anak-anak kecil berceloteh dalam bahasa Inggris bagai air yang mengalir. Kita bisa dengan mudah melihat hal tersebut di mal atau pusat perbelanjaan.

Coba simak kisah Yesica (33), seorang ibu dua anak bernama Andy (6) dan Vina (3). Ia biasa berbicara bahasa Inggris dengan anak-anaknya dalam kehidupannya sehari-hari. Andy bahkan kini menimba ilmu di sekolah yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Yesica berencana memasukkan Vina di sekolah yang sama pada saatnya nanti.

Ketika ditanya apa alasannya lebih memilih menggunakan bahasa Inggris, Yesica menjawab," Sekarang kan zaman globalisasi. Apa-apa pakai bahasa Inggris. Kalau tidak bisa, bagaimana mereka mau menghadapi persaingan? Justru sekarang saya masukkan ke sekolah berbahasa Inggris supaya anak terbiasa. Lebih cepat lebih baik."

Yesica, yang megnaku tidak begitu lancar berbahasa Inggris, juga mengharuskan anak-anaknya mempraktikkan bahasa Inggris di luar rumah. Bila berkenalan dengan orang baru, ia mengatakan, "Say your name. Shake hand."

Lalu kapan mereka berbahasa Indonesia? Sejenak ia terdiam, kemudian mengatakan bahwa ia ingin mereka terlebih dahulu menguasai bahasa Inggris.

"Toh kami tinggal di Indonesia. Jadi pasti mereka bisa sendiri nanti. Yang penting sekarang bisa bahasa Inggris dulu," ujarnya.

Belum tentu pintar
Menurut Sri Tiatri, MSi, Psi, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, penggunaan bahasa sangatlah penting dalam kehidupan setiap manusia. Melalui bahasa, seseorang bisa mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya. Cara seseorang berbahasa juga menunjukkan cara ia berpikir.

"Tapi jangan langsung menganggap bahwa anak yang gemar bicara memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibanding anak-anak lain. Sebaliknya, anak pendiam belum tentu bodoh. Ini juga berlaku pada kemampuan berbahasa Inggris. Belum tentu anak yang mahir berbahasa Inggris lebih pintar dibanding anak-anak lain seusianya. Ini semua merupakan kebiasaan," jelas psikolog yang akrab disapa Tia ini.

Menurut Tia, memang memungkinkan mengajarkan bahasa asing kepada anak, tapi kita sebaiknya mempertimbangkan tempat dimana kita tinggal dan membesarkan sang buah hati. Bahasa yang pertama kali diperkenalkan juga seharusnya adalah bahasa utama yang digunakan di lingkungan tersebut.

Bila masyarakat di lingkungan sehari-hari bicara bahasa Indonesia, bahasa itulah yang semestinya diajarkan pertama kali. Kalau kebanyakan bercakap-cakap memakai bahasa Sunda, bahasa inilah yang diperkenalkan di awal. Ini penting sebab anak akan berinteraksi dengan lingkungannya. Jika bahasanya tidak cocok, dikhawatirkan ia tak bisa mengemukakan kebutuhannya dengan baik.

Lalu, bagaimana dengan bahasa Inggris? Dalam anggapan Tia, sah saja mengajarkan bahasa asing tersebut sepanjang porsinya memang sesuai. Artinya kalau memang bahasa pergaulan utamanya adalah bahasa Inggris, silakan memperkenalkan bahasa itu. Tetapi kalau tidak, Anda sebaiknya memastikan bahwa anak menguasai bahasa ibunya terlebih dulu.

"Sebenarnya saya lebih setuju bila orang tua Indonesia mengajarkan anak bahasa Indonesia dulu. Kalau bahasa itu sudah benar-benar dipahami dan dikuasai, baru perkenalkan bahasa asing," katanya.

Tak ada patokan umur
Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa asing ini, tidak ada patokan umur yang bisa dikenakan pada anak. Yang lebih menentukan adalah karakteristik, kemampuan menyesuaikan diri, dan tingkat kecerdasan anak. Kalau merasa anak mampu dan memiliki minat, kenapa tidak?

Tia mengingatkan para orang tua untuk tidak gegabah. Kita sebagai masyarakat Indonesia menganut sistem kekerabatan yang amat erat. Akibatnya kita jadi sering terlalu memerhatikan pendapat orang mengenai diri kita daripada benar-benar mempertimbangkan apa yang baik untuk keluarga sendiri.

"Kita sering berhadapan dengan kalimat, 'Apa kata dunia kalau begini begitu?'. Akhirnya kita jadi khawatir dicap ketinggalan zaman kalau anak tidak belajar bahasa Inggris sama seperti anak-anak lain," ungkap Tia.

Padahal, menurutnya, bila tidak memiliki kesiapan, hal ini bisa menimbulkan dampak negatif. Anak jadi mencampuradukkan bahasa dan akhirnya cara berpikirnya jadi kacau. Ia tidak mampu menyesuaikan bahasa dengan orang yang diajak bicara. "Istilahnya 'sakelar' bahasanya rusak," kata Tia.

(Tassia Sipahutar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau