4 tahun lumpur lapindo

Lagi, Bangunan Ambles 3 Meter di Porong

Kompas.com - 02/06/2010, 18:53 WIB

SURABAYA,KOMPAS.com - Bangunan dapur milik almarhum H Abdul Rochim Nur, warga RT 02 RW 01, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo ambles sedalam tiga meter, Rabu (2/6) siang.

Seluruh bangunan dapur ambles dan tinggal menyisakan kerangka atap. Lokasi dapur milik almarhum H Abdul Rochim yang juga ayah mantan anggota DPRD Jatim Muhammad Mirdasy ini hanya berjarak 10 meter di sebelah barat Jalan Raya Porong.

Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 10 meter persegi itu kini lenyap dan tinggal menyisakan kolam yang digenangi air bercampur lumpur sedalam tiga meter.

Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Achmad Zulkarnain mengatakan, lokasi amblesan terletak sekitar 400 meter di sebelah barat pusat semburan Lumpur Lapindo.

"Sekitar pukul 06.00 kami menerima laporan dari Bapak Wahab penjaga rumah bahwa bangunan ambles sekitar 2 meter hingga 3 meter. Lalu, pukul 12.25 seluruh bangunan dapur akhirnya ambles," ucapnya.

Menurut Zulkarnain, amblesnya bangunan terjadi karena munculnya bidang-bidang sesar akibat penurunan kolam lumpur di pusat semburan. Sejak Februari 2009 lalu, pusat semburan Lumpur Lapindo turun 10 sentimeter per hari.

Penurunan kolam lumpur akhirnya membentuk sesar dari arah timur ke barat yang menimbulkan rekahan-rekahan tanah. "Karena muncul rekahan-rekahan tanah, permukaan tanah bisa ambles sewaktu-waktu. Jika di bangunan rumah milik warga muncul retakan, mereka harus waspada," ujarnya.

Bangunan dapur itu berhimpitan dengan bangunan rumah utama. Sejak tanggul penahan lumpur jebol tahun 2007 lalu, almarhum Abdul dan istrinya Marroh pindah ke Panti Asuhan Nurul Azhar di sebelah selatan rumah.

"Sebelum dapur kami ambles, ibu sempat mandi di kamar mandi di dekat dapur saat subuh. Namun, pukul 06.00 dapur tiba-tiba mulai ambles," kata Mirdasy, putra Marroh.

Menurut Mirdasy, selama ini masyarakat di sekitar tak memiliki pemahaman cukup tentang risiko yang sewaktu-waktu mengancam pemukiman mereka.

Sedangkan pihak BPLS tak juga tak memberikan pembelajaran pada masyarakat tentang kondisi pemukiman di sekitar semburan lumpur Lapindo yang semakin membahayakan.

"Kami dan masyarakat semua ingin hidup tenang. Seharusnya ada upaya serius dari pemerintah untuk memperhatikan nasib kami yang sewaktu-waktu terancam ini," ungkap Mirdasy.

Setahun lalu, di rumah Mirdasy telah muncul tiga semburan lumpur. Mirdasy pun menyatakan pada BPLS bahwa pemukiman warga tak lagi layak namun tak pernah ditanggapi. 

Sebelumnya, bangunan ambles juga terjadi di rumah milik Okky Andriyanto, warga RT 3 RW 01, Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Tahun lalu, rumah Okky ambles sedalam enam meter akibat munculnya semburan lumpur yang keluar sejak 26 Juni 2009.

Amblesnya tanah juga menimpa bangunan dapur milik Zulkan, warga RT 03 RW 01, Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Amblesnya dapur milik Zulkan juga terjadi secara tiba-tiba.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau