Dugaan korupsi

Menelusuri Asal-usul Uang Gayus

Kompas.com - 03/06/2010, 04:04 WIB

Oleh SARIE FEBRIANE

Perkara yang menyeret Gayus HP Tambunan masih menyisakan misteri. Pegawai penelaah keberatan di Direktorat Keberatan dan Banding di Direktorat Jenderal Pajak itu diduga menyuap sejumlah aparat hukum dengan nilai suap hingga miliaran rupiah. Publik tentu bertanya-tanya, dari mana uang sebanyak itu?

Polisi telah menyeret sedikitnya sembilan tersangka yang diduga terguyur isi rekening Gayus dan atau membantunya lolos dari pidana korupsi dan pencucian uang tahun 2009. Namun, sejauh ini, polisi belum menetapkan satu tersangka pun yang diduga ”mengalirkan” miliaran rupiah itu kepada Gayus. Terkait hal itu, polisi baru memeriksa empat perusahaan berinisial PT SAT, PT DAS, PT EC, dan PT ID.

Padahal, nyanyian Gayus dalam pemeriksaan oleh penyidik Tim Independen Mabes Polri sudah cukup ”merdu”. Dengan terbuka, Gayus membeberkan asal muasal miliaran rupiah uangnya tersebut.

Gayus sejak awal menyerahkan diri sudah berkomitmen untuk buka-bukaan. Pia AR Akbar-Nasution, salah satu dari tim pengacara Gayus dari firma hukum Adnan Buyung Nasution, membenarkan, Gayus memang berkomitmen membuka semua yang benar-benar diketahuinya. ”Itu komitmennya juga dengan kami,” kata Pia.

Mengingat ke belakang, Gayus pada April 2009 disidik penyidik di Direktorat II Badan Reserse Kriminal Mabes Polri dalam kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan. Polisi memblokir 10 rekening Gayus di Bank Panin (Rp 24 miliar) dan 11 rekening di Bank BCA (Rp 4 miliar) setelah menerima laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan soal rekeningnya yang mencurigakan. Bagaimana tidak, Gayus hanya bergaji Rp 8 juta per bulan. Jumlah total Rp 28 miliar itu belum termasuk uangnya yang disimpan di safety box di Bank Mandiri di Plaza Mandiri, yang dibuka 2008.

Sumber dana

Pengakuan Gayus, sejak 2007-2009, ia menangani proses banding 44 perusahaan atau wajib pajak (WP). Selain itu, ada 104 perusahaan atau WP yang tidak ditangani proses bandingnya, tetapi namanya tercantum dalam surat tugas. Santer beredar kabar, beberapa perusahaan itu dari Bakrie Group. Soal ini, Pia tidak membantah. ”Di antara perusahaan itu (yang ditangani Gayus), ada perusahaan Bakrie. Itu saja yang bisa saya jawab,” kata Pia.

Meskipun enggan menjelaskan lebih jauh, Pia memastikan arah penyidikan polisi saat ini juga menelusuri asal-usul uang di rekening Gayus.

Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Ito Sumardi, seusai rapat antara Kapolri dan Tim Pengawas Kasus Century di DPR, Rabu (2/6), tak membantah ada pengakuan Gayus soal sumber uangnya, yang di antaranya berasal dari perusahaan di bawah Bakrie Group. ”Kami masih membutuhkan bukti-bukti material, tidak bisa hanya kesaksian, lho,” kata Ito.

Kepada penyidik, Gayus mengaku, tahun 2008 pernah menerima 500.000 dollar AS dari Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai jasa mengeluarkan surat ketetapan pajak (SKP) untuk tahun pajak 2001-2004, yang tertahan di Kantor Pelayanan Pajak Large Tax Office di Gambir. Tertahannya SKP itu, menurut Gayus, karena masalah penetapan kurs mata uang. Selain itu, Gayus juga mengaku menerima 500.000 dollar AS dari PT Bumi Resources untuk berkoordinasi dengan panitera pengadilan pajak majelis 10 untuk memenangi proses banding perusahaan itu. Gayus juga mengaku pernah menerima 2 juta dollar AS dari KPC dan PT Arutmin untuk meneliti laporan keuangan dan pembukuan dalam rangka pembetulan surat pemberitahuan pajak terutang Pajak Penghasilan kedua perusahaan itu dalam rangka sunset policy.

Gayus mendapat proyek itu melalui Alif Kuncoro, yang sudah dikenalnya.

Juru bicara Bumi Resources Dileep Srivastava menegaskan, segala tuduhan terkait pajak itu tidak benar. ”Ini adalah perusahaan yang dikenal reputasinya dalam dan internasional. Tidak ada cara-cara seperti yang dituduhkan itu,” tandasnya.

Bantahan serupa juga ditegaskan Aburizal Bakrie seusai menghadiri acara Obrolan Langsat di Kramat Pela, Jakarta Selatan. ”Saya yakin (kesaksian Gayus) itu tidak benar. Tidak mungkin. Saya percaya apa yang dilakukan—saya enggak di bisnis lagi—oleh anak-anak di dalam perusahaan tidak seperti itu. Tidak benar,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau