Alfred Riedl Kecewa

Kompas.com - 03/06/2010, 04:12 WIB

Makassar, Kompas - Pelatih kepala tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, kecewa melihat performa 22 pemain yang mengikuti seleksi tahap pertama wilayah timur, yang dimulai Selasa (2/6) di Stadion Mattoanging, Makassar, Sulawesi Selatan. Dari segi fisik, teknik, ataupun mental, Boaz Solossa dan kawan-kawan dinilai tidak sesuai harapan.

”Saya terkejut karena ternyata kualitas teknik, fisik, dan mental pemain sangat rendah. Kualitas mereka bahkan jauh tertinggal dari Vietnam,” tutur Riedl seusai seleksi perdana tim nasional di Stadion Mattoanging, Rabu (2/6) pagi.

Dia mengaku memiliki penilaian berbeda ketika memantau para pemain sejak tiba di Tanah Air pada 9 Mei lalu.

”Saya tadinya mengira kualitas pemain sedikit lebih baik, terutama kondisi fisik, mengingat kompetisi baru selesai beberapa hari lalu,” ungkap pelatih asal Austria ini.

Ternyata para pemain tampak megap-megap saat diminta Riedl berlari keliling lapangan. Saat latihan memasuki sesi pemahaman taktik, beberapa pemain tampak kebingungan menjalankan instruksi Riedl. Beberapa pemain, seperti Andik Vermansah (Persebaya Surabaya), Ricardo Salampessy (Persipura Jayapura), dan Diva Tarkas (PSM Makassar), pun kerap dimarahi Riedl.

”Hal ini menjadi pekerjaan rumah terberat meskipun saya optimistis kemampuan pemain bisa dibenahi sebelum Piala AFF berlangsung,” ujar Riedl.

Seleksi kali ini diikuti 22 pemain dari 25 pemain yang dipanggil. Tiga pemain Arema Malang—Ahmad Bustomi, Benny Wahyudi, dan Fachrudin—belum bisa mengikuti seleksi dengan alasan berbeda. Ahmad Bustomi menikah, sedangkan Benny dan Fachrudin masih cedera.

Menurut asisten manajer tim nasional Iwan Budianto, ketiganya akan bergabung dalam seleksi tahap pertama wilayah barat pada 7-8 Juni di Jakarta. Seleksi wilayah barat masih akan diikuti beberapa muka lama, seperti Bambang Pamungkas (Persija Jakarta), Ponaryo Astaman (Sriwijaya FC), dan Markus Harison (Persib Bandung).

”Seleksi ini untuk pembentukan tim nasional yang akan mengikuti Piala AFF sehingga tidak ada pembatasan usia,” kata Iwan.

Kendati mayoritas peserta seleksi wilayah timur adalah pemain muda, beberapa muka lama juga masih turut serta, seperti Boaz Solossa dan Yandri Pitoy (Persipura Jayapura), serta Hamka Hamzah (Persisam Samarinda).

Seleksi juga masih diikuti beberapa pemain yang berpostur di bawah 170 sentimeter, seperti Andik Vermansah dan Octovianus Maniani (Persitara Jakarta Utara). ”Mereka dipilih karena memiliki skill istimewa,” kata Timo Scheunemann, salah satu anggota tim pemantau Badan Tim Nasional PSSI.

Selain Riedl dan staf pelatih, BTN memiliki wewenang untuk memilih pemain yang dianggap menonjol selama kompetisi musim lalu. Bahkan, 38 pemain dari 50 peserta seleksi tahap pertama merupakan hasil rekomendasi BTN. Namun, seleksi pembentukan tim nasional masih terbuka bagi pemain lain.

”Kalau tim pelatih belum puas dengan 50 pemain yang sudah terpilih, seleksi tahap kedua bulan depan bisa diikuti pemain baru,” tutur Iwan Budianto.

Dari dua tahap seleksi itu, tim pelatih akan menetapkan 35 pemain untuk menjalani pemusatan latihan pada bulan Agustus mendatang. (RIZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau