JAKARTA, KOMPAS.com - Tindakan pasukan Israel menyerang Kapal Mavi Marmara yang merupakan kapal pembawa bantuan misi kemanusian ke jalur Gaza, jangan dipandang sebagai perselisihan agama. Namun, tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran kemanusian.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah pada jumpa pers World Peace Forum III di kantor Muhammdiyah, Kamis (3/6/2010).
"Kami jelas mendukung kemerdekaan Palestina. Tindakan Israel tersebut merupakan kejahatan kemanusian, bukan perang agama," katanya.
Dikatakan Din, selama ini Muhammdiyah telah melakukan langkah-langkah kongkret bagi Palestina. "Di dalam negeri, kami telah menggalang solidaritas bersifat lintas agama. Seperti mengirim tim-tim medis. Ke depan, kami akan menggalang kebersamaan lembaga-lembaga solidaritas untuk Palestina," papar Din.
Dengan tindakan Collective Action, kata Din, akan memberikan efek jera bagi Israel. "Tindakan Israel seperti tak ada yang mampu membendung. Resolusi-resolusi yang dikeluarkan PBB selalu mentah. Karena itu, kami perlu mengajak negara-negara Arab untuk bersatu," ujarnya.
Lebih lanjut Din meminta pemerintah mengambil langkah-langkah yang efektif bagi Palestina. "Langkah Indonesia sudah jelas, yaitu mendukung kemerdekaan Palestina. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong Republik Indonesia untuk mengambil langkah-langkah efektif. Artinya, tidak hanya sebatas peryataan tetapi perbuatan," ungkapnya.
"Yang paling penting adalah jangan membuka hubungan apapun dengan Israel seperti perdagangan, politik, dan diplomatik," kata Din Syamsuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang