JAKARTA, KOMPAS.com - Pengacara Nunun Nurbaeti, Partahi Sihombing, ikut meramaikan bursa calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK dengan mendaftarkan diri ke setretariat di kantor Kemenkumham, Jakarta, Kamis (3/6/2010) siang.
Partahi mengaku bermodal 30 tahun sebagai advokat, dan katanya tanpa cacat kasus mafia hukum. Jika garis tangan menakdirkan menjadi pimpinan KPK, Partahi berjanji akan menyeret siapapun yang korupsi, termasuk Presiden.
"Saya enggak kenal Kapolri, Jaksa Agung. Saya enggak kenal orang pajak, dan markus. Saya yakini diri saya. Artinya saya tidak peduli sama mereka, karena saya enggak kenal. Saya lempeng-lempeng saja. Saya enggak peduli, sepanjang benar. Asal korupsi, sampai tingkat Presiden sekalipun, kenapa enggak. Semua sama, hukum berlaku semua lapisan," Partahi sesumbar lantang.
Jika menjadi pimpinan KPK, Partahi mengakui seharusnya Nunun bisa dihadirkan ke persidangan sebagai saksi. Namun, di sisi lain Partahi mengaku sulit jika memang keadaan Nunun sedang sakit. "Tapi, karena diguarantee sakit sama dokter, kita mau bilang apa," kilahnya.
Sebagaimana diketahui, Nunun Nurbaeti yang juga istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun (kini jadi anggota DPR setelah gagal jadi Gubernur DKI Jakarta lewat PKS) merupakan tokoh kunci dalam kasus aliran dana suap senilai Rp 24 miliar.
Duit sebanyak itu mengalir ke sejumlah anggota DPR periode 1999-2004 yang terkait erat dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior BI yang dimenangkan Miranda Swaray Goeltom.
Kasus itu, telah menyeret empat mantan anggota DPR, Dudhie Makmun Murod, Udju Djuhaeri, Endin Soefihara, dan Hamka Yandhu, yang keempatnya telah divonis bersalah dan dipidana penjara.
Saat persidangan keempat terdakwa itu, jaksa tidak mampu menghadirkan Nunun ke persidangan. Pihak Nunun, termasuk Partahi, mengklaim Nunun berobat ke RS Mounth Elisabeth, Singapura. Namun, tim KPK yang telah mencari keberadaan Nunun tak mendapati Nunun di rumah sakit tersebut. (Acoz)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang