Industri Perhiasan Indonesia Punya Potensi Lebih Maju

Kompas.com - 03/06/2010, 19:01 WIB

KOMPAS.com - "Saat ini harga emas sedang berada di level tinggi. Hal ini menjadi hal yang menguntungkan untuk para pemilik akhir emas, tetapi untuk para pemain industri, hal ini tak selalu baik karena artinya daya beli sedang turun. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengakali keadaan ini adalah dengan melakukan ekspor. Saat ini, industri perhiasan Indonesia sudah mulai menjadi pemain internasional, tetapi sayangnya, kebanyakan barang kita dijual dalam bentuk bahan mentah, bukan dalam bentuk jadi," ungkap Leo Hadi Loe, Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APEPI) pada upacara pembukaan Jakarta International Jewellery Fair 2010, hari ini, Kamis (3/6/2010) di Cendrawasih Room, Jakarta Convention Center.

Pada saat yang bersamaan, Fauzi Aziz, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (Dirjen IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan bahwa meski perhiasan termasuk kebutuhan sekunder bagi kebanyakan orang, namun, tetap memiliki nilai lindung yang menjadikan sebagai barang yang dicari. Dijelaskan pula oleh Fauzi Aziz, bahwa industri perhiasan termasuk dalam bagian kerajinan dan kreativitas, dan sudah sepantasnya menjadi bagian yang diprioritaskan, karena mampu memberikan kontribusi penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Dari sektor perhiasan, Badan Pusat Statistik pada tahun 2009 memberi kontribusi sebanyak 31,7 persen tenaga kerja dan 32,44 persen untuk ekspor.

Bahkan, Fauzi sempat menyebutkan, pada tahun 2009 lalu, ekspor perhiasan tercatat sebanyak 1.02 miliar dolar AS, ini yang tercatat resmi, belum lagi yang perhiasannya dibawa dalam bentuk barang bawaan oleh para turis. Dalam sambutannya, Leo Hadi menyatakan, bahwa Indonesia memiliki 4 jenis produk perhiasan yang jika difokuskan, bisa menjadi pemain kelas dunia.

Keempat produk tersebut adalah; Yang pertama, emas, bahwa kita memiliki pabrikan emas yang sudah diekspor ke 40 negara dan merupakan pemain internasional. Kemudian, yang kedua, mutiara. Mutiara laut yang ada di dunia, kebanyakan disuplai dari Indonesia. Namun, karena masih banyak pertimbangan dan kekhawatiran, belum dikaryakan sebagai perhiasan. Lalu, yang ketiga, perak. Sebenarnya Indonesia memiliki perajin perak yang bagus, namun belum punya kesempatan untuk bertemu para pembeli di luar negeri. Karena jumlahnya yang banyak, sulit untuk difasilitasi. Yang terakhir, adalah batu permata. Indonesia memiliki banyak batu permata yang bagus. Namun, untuk bisa dijual ke pasar internasional, harus dalam bentuk yang industrial size. Sayangnya, pemotong batu permata di Indonesia belum banyak. Alhasil, kesulitan untuk menjual bahan mentah.

Leo juga mengatakan, bahwa banyak perajin-perajin perhiasan yang berpotensi, namun tak sempat terekspos ke pembeli atau pasar internasional. Sebenarnya untuk hal seperti ini dibutuhkan bantuan dari pemerintah. Tetapi sayangnya, karena jumlah perajin yang sangat banyak, tak mungkin juga untuk pemerintah memfasilitasi para perajin ini semua ke luar negeri. Karenanya, Leo mengatakan, amat dibutuhkan pameran-pameran perhiasan di Indonesia untuk menarik pembeli dari luar negeri dan memetakan industri perhiasan Indonesia di mata internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau