Wah... Ada Makan Gratis di HUT Bogor

Kompas.com - 03/06/2010, 19:56 WIB

BOGOR, KOMPAS.com- Sekitar 300 warga berebut makanan gratis yang disediakan Pemerintah Kota Bogor di halaman belakang Gedung DPRD setempat, , Kamis (3/6/2010). Penyediaan hidangan gratis itu berkaitan dengan puncak peringatan Hari Jadi ke -528 Bogor, yang jatuh pada hari Rabu kemarin.   

Berbagai jenis makanan disediakan, seperti tumpeng nasi kuning (ada sekitar 50 tampah), doclang (ketupat bumbu kacang khas Bogor), asinan bogor, toge goreng, laksa, sampai es doger dan es cingcau.

Kecuali nasi tumpeng yang dibuat oleh kelurahan dan instansi di Pemko Bogor, makanan lainnya diborong panitia dari para pedagang aslinya yang berjualan di berbagai sudut Kota Bogor.  

Mereka yang datang adalah warga dari berbagai penjuru Kota Bogor, yang memang tahu setiap ada peringatan HJB disediakan makan gratis bagi warga yang datang. Di bawah tenda yang sama, para undangan resmi peringatan hari jadi itu juga menikmati hidangan yang sama, namun tentunya lebih tertib.  

"Saya senang setiap HJB ada makan macam-macam gratis. Ini saya bawa pulang untuk anak-anak di rumah," kata Maesaroh (48), seorang janda ditinggal mati suami yang punya tiga anak.

Ia memasukkan berbagai makanan ke dalam kantong plastik yang sengaja dibawanya dari rumah. Warga Cimahpar itu setiap HJB selalu menyempatkan datang untuk mendapat makan gratis. "Resep (senang)," katanya.  

Endang (54) berhasil mendapat nasi tumpeng dua tambah. "Ini mau saya bawa ke Pasar Anyar. Babaturan (teman sekerjanya) sudah menunggu. Buat makan siang bersama di pasar," kata Endang, yang bersama seorang temannya menjunjung nasi tumpeng berwadah nampah di kepala masing-masing.  

Warga Cimahpar (Bogor Utara) yang juga senang adalah Ujang, pedagang doclang. "Dagangan saya diborong Pemda. Hari ini saya untung. Pemda borong 250 piring. Satu piringnya dibayar Rp 3.000," katanya.  

Dalam sidang paripurna DPRD menyambut HJB, Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengatakan, ada hal baru yang mulai dilakukan bersama antara Pemkot dan Pemkab Bogor. Yakni, memulai langkah, pemahaman, dan kesadaran baru akan pentingnya sinergi dan kerja sama antara pemda dan masyarakat dua wilayah tersebut.

"Hal itu diwujudkan dalam penandatangan nota kesepahaman antara Pemko dan Pemkab yang berlangusung di Cibinong 20 Mei lalu," katanya.  

Wali Kota mengaskan, sinergi dan kerjasama antara dua pemda itu memang suatu keniscayaan, yang harus dilakukan. Sebab, begitu banyak pembangunan yang harus bersinggungan.

"Kami harapakan semangat kebersamaan kedua pemda saat ini tidak memudar dilanda waktu, melainkan terus berlanjut dari generasi ke generasi selanjutnya, sebagi suatu kebutuhan dan tangung jawab," katanya.  

Dalam pidatonya, Diani menggunakan bahasa Sunda. Busana yang dikenakan juga busana adat Sunda. Hampir seluruh anggota DPRD dan para undangan yang hadir dalam sidang pariwuna HJB tersebut juga berbusana adat Sunda.  

Setelah acara resmi, sidang dilanjutkan dengan acara informal yakni memberikan penghargaan dan piala kepada warga Bogor yang berprestasi atau teladan dari sejumlah bidang. Salah satunya kepada Kepala Sekolah SD Sukasari 2 dan SD Cimahpar 1, yang sekolahnya berprestasi dalam bidang sekolah berwawasan lingkungan tingkat Jawa Barat tahun 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau