Kesan Pertama Mengendarai Honda Scoopy

Kompas.com - 04/06/2010, 13:01 WIB

KARAWANG, KOMPAS.com — PT Astra Honda Motor (AHM), kemarin sore (3/6/2010), memberikan kesempatan secara terbatas kepada beberapa media otomotif online, termasuk KOMPAS.com, untuk menjajal skutik terbarunya, Scoopy, yang tampil bergaya retro. Untuk ini, Honda menyediakan tiga unit Scoopy sesuai dengan warna yang dipasarkan dan sudah dicoba sampai 170 km.

Tes dilakukan di trek pendek pabrik sepeda motor Honda di Karawang dengan hanya satu jenis permukaan. Kendati demikian, itu cukup untuk mengetahui beberapa karakteristik dan performa skutik ini.

Cukup menarik, beberapa rekan wartawan yang kebetulan memiliki BeAT bisa menambahkan informasi karena langsung membandingkannya.

Posisi Mengendara Pertama, untuk menghidupkan mesin sangat mudah. Tarik tuas rem kiri dan tekan tombol starter. "Jreeeng...", mesin pun hidup. Suaranya halus. Begitu juga getarannya. KOMPAS.com coba memerhatikan dengan saksama, apakah getaran sampai ke kaca spion yang berdesain bulat. Ternyata, masih ada, namun sangat kecil.

Setelah itu, coba duduk di sadel dengan kondisi siap jalan. Posisi tangan mencapai atau memegang setang, grip gas dan tuas rem, cukup nyaman. Bahkan lebih baik dibandingkan dengan posisi tangan ketika mengendarai sepeda motor bebek.

Setelah grip gas ditarik diputar, skutik ini bergerak dengan mulus menyusuri trek dengan panjang sekitar 300 meter. Tahap pertama, Scoopy digenjot secara bertahap sampai kecepatan 60 km/jam, terasa mantap!

Lantas dicoba diajak menikung dan ber-zig-zag di sela-sela kun (kerucut). Kesimpulan, Scoopy mudah dikendalikan. Bahkan sempat kedua tangan dilepas dari setang. Skutik ini tetap mengarah ke depan dengan stabil di permukaan jalan tempat tes yang kurang rata atau agak bergelombang.

Lebih Responsif Setelah beberapa kali mengitari trek, beberapa rekan wartawan mengatakan kepada staf Honda, mesin yang digunakan Scoopy lebih baik dibandingkan BeAT. Lebih bertenaga! Padahal, mesin dan karburator yang digunakan ukurannya sama. Hanya, ukuran spuyer yang diset lagi. Untuk performa mesin, kesimpulannya oke!

KOMPAS.com juga mengamat akselerasi skutik ini dari 0-70 km/jam. Pada tahap awal atau start sedikit agak lambat. Begitu mencapai kecepatan 20 km/jam, skutik tambah agresif dengan grip gas terus ditarik. Sayang, kemampuan sprint ini tidak sempat diukur. Namun, yang pasti, untuk mesin 110 cc, kemampuan skutik modis ini sangat memadai.

Alat Kontrol Alat-alat kontrol mudah dioperasikan. Posisi tangan pengendara baik. Kenyamanan oke saat melaju pada 40-50 km/jam di permukaan jalan yang tidak terlalu mulus. Posisi kaki pengendara baik dan tidak terlalu menyentuh ke tameng depan. Rem juga mantap kendati belum dilengkapi seperti Vario Techno CBS.

Pergerakan jarum speedometer mudah dilihat. Honda juga melengkapi skutik dengan penahan tuas rem kiri dan sangat membantu bila berhenti di tanjakan tanpa tangan terus menarik tuas skutik ini agar berhenti.

Yang sedikit agak merepotkan adalah tuas atau engkol kaki untuk menghidupkan mesin. Tuas kecil kurang lancar, ukurannya agak pendek serta agak di belakang. Seperti BeAT, dengan posisi seperti itu, grip gas berada di kanan depan, pada kondisi tertentu agak merepotkan untuk menghidupkan mesin. Misalnya, ketika baterai lemah, sementara untuk menghidupkan mesin harus dipancing dulu dengan memutar grip gas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau