Iseng? Ya, sekelompok remaja yang sedang mencari identitas itu tadinya hanya ingin tampil beda. Mereka bersepakat memakai sepatu berlogo anjing bertelinga panjang saat nongkrong.
Akan tetapi, akhirnya, warga New York malah kepincut memakai sepatu sejenis. Bahkan, desainer seperti Joel Fitzgerald dan Anna Sui juga memadankan Hush Puppies dengan busana yang mereka rancang.
Berapa lonjakan penjualan Hush Puppies? Apabila sebelum tahun 1994 hanya terjual 30.000 pasang sepatu per tahun, pada tahun 1995 dapat dijual 430.000 pasang sepatu. Remaja-remaja iseng itu adalah tipping point Hush Puppies, ”titik balik” pemicu pertumbuhan besar-besaran.
Mazda pun kini menciptakan tipping point, dengan menggaet sembilan individu yang dilabeli ”Mazda2 City Stylists”. Yakni, sekelompok individu pencipta tren dalam lingkungan urban, yang sejak awal Mei 2010 dipinjami Mazda2 hatchback dan New Mazda2 sedan.
Affi Assegaf, Volland Humonggio, Adhika Maxi, dan Karen Carlotta serta Saskia Hidayat kini menapaki ruas-ruas jalan dengan Mazda2 hatchback.
Sementara Rachmat Harsono, Yoris Sebastian, Stella Rissa, dan Natasha Rasyid mengemudikan New Mazda2 sedan.
Bertemu empat dari sembilan ”Mazda2 City Stylists” membuat saya teringat Akira Tamatani, desainer Mazda2. Tahun lalu, kami bertemu di kantor pusat Mazda Motor Corporation di Hiroshima, Jepang. Mereka bersembilan plus Tamatani, sama- sama keren, bergaya.
Rambut Tamatani bermodel Mohawk, berkalung, dengan kancing baju terbuka di bagian dada. Sangat stylish, sesuai citra Mazda2.
Dengan ”Mazda2 City Stylists”, Mazda berharap masyarakat ramai- ramai membelinya. Tak heran, Mazda agresif ”menjajakan diri” di mal, seperti Senayan City, Plaza Indonesia, Mal Pondok Indah, dan eX. Di sanalah, terletak kantong-kantong warga urban.
Astrid Ariani, Marketing Manager Mazda Motor Indonesia, menginformasikan, pembeli Mazda2 terbanyak pada rentang umur 25-35 tahun, disusul kelompok umur 35-45 tahun, baru kemudian 18-25 tahun.
”Sebenarnya, bukan daftar pembeli, tetapi pemakai. Karena untuk kelompok umur 18-25 tahun, Mazda2-nya tampaknya dibelikan oleh orangtua,” ujar Astrid, tersenyum.
Pekan lalu, Kompas menjajal New Mazda2 sedan berkelir putih, dari Jakarta menuju Bandung. Desainnya, dengan garis-garis lengkung tegas yang menyapu kontur tubuhnya dan wujudnya yang dinamis kerap membuat pengguna jalan lain yang didahului menengok.
Ketika melaju di Tol Cikampek, mesin 1.5 Liter berteknologi sequential variable timing (S-VT) dan electronic throttle control (ETC) mampu berakselerasi dengan baik.
Memasuki Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang yang berliku-liku, pengendalian (handling) New Mazda2 sedan ini juga mengesankan. Begitu pula kinerja pengereman yang didukung anti-lock braking system (ABS) dan electronic brake-force distribution (EBD).
Mazda2 memiliki fitur automatic level control (ALC) yang menyesuaikan volume musik dengan tingkat kebisingan di luar.
Dari sisi pemasaran, New Mazda2 sedan memasuki segmen yang ditempati All New Honda City, New Toyota Vios, serta Suzuki dan Neo Baleno. Adapun New Mazda2 hatchback berhadapan melawan Honda Jazz, Toyota Yaris, Suzuki Swift, Hyundai i20, Peugeot 207, Nissan Livina XR, dan mungkin—sebentar lagi Ford Fiesta.
”Kami optimistis dengan penjualan Mazda2,” kata Yoshiya Horigome, Presiden Direktur Mazda Motor Indonesia. Hingga bulan lalu, sudah terjual 1.800 unit Mazda2 sehingga target penjualan Mazda2 dinaikkan dari angka 5.000 unit menjadi 6.000 unit pada tahun 2010.