Mobil baru

NEW MAZDA2 SEDAN, TAMPIL BERGAYA...

Kompas.com - 07/06/2010, 04:16 WIB

Dalam bukunya, Tipping Point, penulis majalah The New Yorker, Malcolm Gladwell, mengulas ledakan penjualan sepatu Hush Puppies pada akhir tahun 1994. Ternyata, ledakan tersebut diawali ulah sekelompok remaja iseng di New York. Dan kini, Mazda sedang berupaya menemukan tipping point mereka.

Iseng? Ya, sekelompok remaja yang sedang mencari identitas itu tadinya hanya ingin tampil beda. Mereka bersepakat memakai sepatu berlogo anjing bertelinga panjang saat nongkrong.

Akan tetapi, akhirnya, warga New York malah kepincut memakai sepatu sejenis. Bahkan, desainer seperti Joel Fitzgerald dan Anna Sui juga memadankan Hush Puppies dengan busana yang mereka rancang.

Berapa lonjakan penjualan Hush Puppies? Apabila sebelum tahun 1994 hanya terjual 30.000 pasang sepatu per tahun, pada tahun 1995 dapat dijual 430.000 pasang sepatu. Remaja-remaja iseng itu adalah tipping point Hush Puppies, ”titik balik” pemicu pertumbuhan besar-besaran.

Mazda pun kini menciptakan tipping point, dengan menggaet sembilan individu yang dilabeli ”Mazda2 City Stylists”. Yakni, sekelompok individu pencipta tren dalam lingkungan urban, yang sejak awal Mei 2010 dipinjami Mazda2 hatchback dan New Mazda2 sedan.

Affi Assegaf, Volland Humonggio, Adhika Maxi, dan Karen Carlotta serta Saskia Hidayat kini menapaki ruas-ruas jalan dengan Mazda2 hatchback.

Sementara Rachmat Harsono, Yoris Sebastian, Stella Rissa, dan Natasha Rasyid mengemudikan New Mazda2 sedan.

Bertemu empat dari sembilan ”Mazda2 City Stylists” membuat saya teringat Akira Tamatani, desainer Mazda2. Tahun lalu, kami bertemu di kantor pusat Mazda Motor Corporation di Hiroshima, Jepang. Mereka bersembilan plus Tamatani, sama- sama keren, bergaya.

Rambut Tamatani bermodel Mohawk, berkalung, dengan kancing baju terbuka di bagian dada. Sangat stylish, sesuai citra Mazda2.

Hadir di mal

Dengan ”Mazda2 City Stylists”, Mazda berharap masyarakat ramai- ramai membelinya. Tak heran, Mazda agresif ”menjajakan diri” di mal, seperti Senayan City, Plaza Indonesia, Mal Pondok Indah, dan eX. Di sanalah, terletak kantong-kantong warga urban.

Astrid Ariani, Marketing Manager Mazda Motor Indonesia, menginformasikan, pembeli Mazda2 terbanyak pada rentang umur 25-35 tahun, disusul kelompok umur 35-45 tahun, baru kemudian 18-25 tahun.

”Sebenarnya, bukan daftar pembeli, tetapi pemakai. Karena untuk kelompok umur 18-25 tahun, Mazda2-nya tampaknya dibelikan oleh orangtua,” ujar Astrid, tersenyum.

Pekan lalu, Kompas menjajal New Mazda2 sedan berkelir putih, dari Jakarta menuju Bandung. Desainnya, dengan garis-garis lengkung tegas yang menyapu kontur tubuhnya dan wujudnya yang dinamis kerap membuat pengguna jalan lain yang didahului menengok.

Ketika melaju di Tol Cikampek, mesin 1.5 Liter berteknologi sequential variable timing (S-VT) dan electronic throttle control (ETC) mampu berakselerasi dengan baik.

Memasuki Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang yang berliku-liku, pengendalian (handling) New Mazda2 sedan ini juga mengesankan. Begitu pula kinerja pengereman yang didukung anti-lock braking system (ABS) dan electronic brake-force distribution (EBD).

Mazda2 memiliki fitur automatic level control (ALC) yang menyesuaikan volume musik dengan tingkat kebisingan di luar.

Dari sisi pemasaran, New Mazda2 sedan memasuki segmen yang ditempati All New Honda City, New Toyota Vios, serta Suzuki dan Neo Baleno. Adapun New Mazda2 hatchback berhadapan melawan Honda Jazz, Toyota Yaris, Suzuki Swift, Hyundai i20, Peugeot 207, Nissan Livina XR, dan mungkin—sebentar lagi Ford Fiesta.

”Kami optimistis dengan penjualan Mazda2,” kata Yoshiya Horigome, Presiden Direktur Mazda Motor Indonesia. Hingga bulan lalu, sudah terjual 1.800 unit Mazda2 sehingga target penjualan Mazda2 dinaikkan dari angka 5.000 unit menjadi 6.000 unit pada tahun 2010. (HARYO DAMARDONO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau