A f r i ka

200 Tentara Asing Berada di Somalia

Kompas.com - 07/06/2010, 04:59 WIB

mogadishu, minggu - Sebanyak 200 tentara asing yang berafiliasi dengan kelompok Al Qaeda diperkirakan kini bersembunyi di wilayah selatan Somalia.

Demikian hasil kajian terkini oleh militer dan komunitas intelijen Amerika Serikat yang dikemukakan kepada CNN, akhir pekan lalu. Para pejabat militer yang dikonfirmasi secara terpisah oleh stasiun televisi tersebut menekankan, jumlah itu masih merupakan perkiraan karena kurangnya informasi intelijen langsung di lapangan.

Pejabat militer AS yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, sebuah rencana telah disiapkan bagi pasukan operasi khusus AS untuk menjalankan operasi melawan anggota Al Qaeda di Somalia jika target sudah bisa diidentifikasi dan ditentukan lokasinya. AS yakin tentara asing itu meliputi warga Afganistan, Irak, Pakistan, Arab Saudi, Yaman, dan sejumlah negara Afrika.

AS juga yakin bahwa tentara asing itu telah menjadi bagian dari jaringan tentara yang telah lama dikenal beroperasi di Afganistan dan Irak, tetapi kini mereka dialihkan ke Somalia.

Salah seorang pejabat militer itu kepada CNN mengatakan, dari ratusan tentara asing yang berada di Somalia, kelompok paling berbahaya adalah para ahli yang mengajarkan cara merakit bom dan taktik senjata kecil di kamp-kamp di selatan Somalia.

Ratusan tentara itu juga diyakini beroperasi bersama organisasi Al Shabaab, sebuah kelompok afiliasi Al Qaeda di Somalia yang melawan pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika dalam upaya mengambil alih Somalia.

Pejabat militer AS lainnya mengatakan, Somalia kini menjadi surga perlindungan paling utama. Dia menambahkan, AS harus bertindak berdasarkan asumsi bahwa kelompok inti tentara asing itu melatih anggota lainnya untuk melakukan serangan atas target-target Barat di Afrika Timur dan target-target di AS.

”Mereka memiliki tujuan melampaui perbatasan Somalia,” kata pejabat itu.

AS telah mengamati sejumlah kamp pelatihan sementara di selatan Somalia. Pada umumnya, mereka beroperasi tidak lebih dari tiga bulan sebelum bergerak ke lokasi lain karena mereka tahu bahwa mereka diamati oleh satelit intelijen AS atau dikenal lewat pesawat tanpa awak yang terbang di atas mereka.

Tentara-tentara asing itu memanfaatkan bangunan-bangunan yang ada, seperti barak militer, gedung, bahkan pemakaman untuk menutupi aktivitas mereka yang sebenarnya.

AS kini masih mencari mata-mata top Al Qaeda di selatan Somalia, Fazul Abdullah Mohammed. Dia telah lama diburu karena diduga berperan dalam pengeboman Kedutaan Besar AS di Kenya dan Tanzania tahun 1998. Dia diyakini bersembunyi di wilayah perbatasan Somalia dan Kenya yang terpencil.

Pada September 2009, pasukan komando AS menewaskan Saleh Ali Saleh Nabhan dalam sebuah serangan helikopter atas konvoi kendaraannya. Nabhan dianggap sebagai pemimpin kunci operasi Al Qaeda di Afrika Timur. (cnn/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau