JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus penyerangan oleh tentara Israel ke kapal pengangkut bantuan kemanusiaan Mavi Marmara memberikan pelajaran baik. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengimbau relawan yang akan menyalurkan bantuan ke Palestina di Jalur Gaza untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah.
Komunikasi penting untuk mencari cara yang efisien dan efektif guna menyalurkan bantuan sehingga kejadian serangan ke Mavi Marmara tak perlu terulang. "Berdasarkan pengalaman kita seminggu terakhir ini, kita harus benar-benar bijak, benar-benar berpikir jernih bagaimana cara bentuk bantuan yang efisien dan efektif sehingga tepat sasaran," kata Menlu Marty Natalegawa di Kantor Kementerian, Senin (7/6/2010), seusai menerima kedatangan empat relawan Indonesia yang berhasil dipulangkan.
Marty menegaskan, pemerintah sangat menghormati niat kemanusiaan dari masyarakat untuk membantu warga Palestina di Gaza. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, harus dipikirkan cara yang cerdas untuk menyampaikannya.
Pemerintah sendiri, aku Marty, tidak memiliki solusi riil yang wajib dilaksanakan. Namun, cara yang tepat dapat diwujudkan melalui komunikasi jika ada pihak yang berkeinginan kembali menyalurkan bantuan ke Gaza. Marty sendiri enggan memberikan penilaian kepada tindakan 12 relawan Indonesia yang pergi, termasuk lima relawan yang dipulangkan hari ini.
Namun, menurutnya, seluruh pihak, pemerintah ataupun masyarakat sepakat akan pentingnya penyaluran bantuan untuk Palestina. "Keberangkatan ini kan memang membawa risiko sendiri, seperti yang kita lihat. Saya menghormati tekad yang mulia, tapi gimana pelaksanaannya, mari kita kelola bentuk yang paling baik," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang