Kamboja

"Perempuan Hutan" Ditemukan di Jamban

Kompas.com - 08/06/2010, 07:54 WIB

PHNOM PENH, KOMPAS.com — Kisah seorang perempuan rimba pernah menjadi pembicaraan di Kamboja. Perempuan itu hidup selama 18 tahun di hutan dan ditemukan pada 2007. Dia kemudian menghilang lagi, tetapi ditemukan di sebuah jamban 11 hari kemudian.

Rochom P'ngieng (29) dilaporkan hilang pada akhir bulan lalu. Keluarganya waktu itu mengatakan percaya bahwa dia telah lari kembali ke hutan. Namun, perempuan itu ditemukan kembali di sebuah jamban di luar rumah sekitar 100 meter dari rumahnya.

"Seorang tetangga mendengar dia menangis," kata Sal Lou, orang yang mengaku sebagai ayahnya, kepada AFP melalui telepon.

Rochom Kamphy (28), adik laki-laki "perempuan hutan" itu, mengatakan bahwa kakak perempuannya hilang dari rumah pada 25 Mei dan ditemukan hari Jumat (4/6/2010) lalu.

Dia mengatakan, kakaknya itu ditemukan seorang penduduk desa di dasar sebuah lubang dalam, yang merupakan sumur yang tak dipakai lagi dan dijadikan sebuah jamban, dan tubuhnya terendam tinja hingga setinggi dadanya.

"Dia ditemukan di sebuah jamban sedalam 10 meter. Ini luar biasa. Dia melewatkan 11 hari di sana," kata pria tersebut.

"Kami masih bertanya-tanya bagaimana dia bisa masuk ke dalam jamban itu, yang mempunyai lubang masuk kecil dan tertutup kayu," katanya.

Kamphy, sang adik, mengatakan, begitu dikeluarkan dari jamban itu, tubuhnya berbau busuk penuh tinja dan cacing. Dia yakin bahwa makhluk halus hutan mungkin telah membawa kakaknya itu ke situasi tersebut.

Kamphy mengatakan, kakaknya yang dirawat di rumah sakit itu kini terlalu kurus dan lemah dan menangis hampir sepanjang waktu.

Hilang tahun 1989

Rochom P'ngieng hilang sebagai gadis cilik tahun 1989 saat menggembalakan kerbau di belakang rumahnya di Distrik O'yadao, Provinsi Ratanakiri, sekitar 600 kilometer barat laut Phnom Penh. Di provinsi itu terdapat beberapa hutan lebat paling terpencil di Kamboja.

Pada awal 2007, dia dibawa dari hutan dalam keadaan telanjang dan kotor. Dia tertangkap kala mencoba mencuri makanan dari seorang petani. Dia berjalan membungkuk seperti seekor monyet dan mengais-ngais di tanah untuk mencari potongan-potongan nasi kering.

Rochom Kamphy mengatakan, tahun lalu kakak perempuannya menghilang selama sembilan hari sembilan malam. Namun, dia akhirnya pulang sendiri. Kali ini dia menghilang selama sebelas hari.

Orang Kamboja menjulukinya "perempuan hutan" dan "gadis setengah binatang". Sejak bergabung kembali dengan masyarakat, dia berulang kali terkena penyakit setelah menolak makanan.

Sebelum menghilang bulan lalu, perempuan itu masih belum bisa berbicara, kecuali beberapa kata. Namun, dia bisa mendengarkan dan mengerti kalau diajak bicara oleh anggota-anggota keluarga. (AFP/DI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau