Permukiman Tangerang Banjir

Kompas.com - 09/06/2010, 03:48 WIB

Jakarta, Kompas -  Hujan deras sejak Senin (7/6) pukul 23.00 hingga Selasa pukul 01.00 membuat sejumlah permukiman di Kota Tangerang tergenang luapan air Kali Cirarap di Bendungan Sarakan, Kabupaten Tangerang, setinggi 50 sentimeter-100 sentimeter.

Bendungan gagal menampung luapan air sungai karena penuh eceng gondok. Air setinggi dada orang dewasa menggenangi rumah warga dari Blok E hingga Blok I Perumahan Persada. Genangan air setinggi paha orang dewasa melanda Blok A-Blok D. Sejumlah warga mengungsi ke tempat ibadah dan bertahan di lantai II rumah mereka.

Ada ratusan rumah di Total Persada dilanda banjir. Banjir memutus akses keluar-masuk warga penghuni empat kompleks perumahan lain, yakni Vila Mutiara Pluit, Vila Regensi II, Vila tomang, dan Priuk Damai.

”Kami tak bisa keluar karena air setinggi pinggang,” kata Fadli Firmansyah, warga Blok I.

Warga dan sejumlah pelajar di perumahan yang berniat ke sekolah terpaksa naik gerobak dengan membayar upah jasa Rp 5.000 per orang.

Hingga pukul 15.00, genangan air masih tinggi dan warga belum ada bantuan dari Pemerintah Kota Tangerang.

Banjir juga menggenangi puluhan rumah warga di Perumahan Mutiara Pluit, Priuk. Jalan menuju perumahan itu tergenang air setinggi paha. Hingga Selasa sore, air belum surut.

Hasan, warga RT 08 RW II Blok A Mutiara Pluit, mengatakan, hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah daerah setempat kepada warga. Puluhan warga sulit keluar dari lokasi perumahan karena terhalang genangan air.

Di Kantor Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Wali Kota Tangerang Wahidin Halim mengatakan, penyebab banjir karena penyempitan kali.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Suparman Iskandar mengatakan, banjir terjadi karena sumbatan eceng gondok di Kali Cirarap, di bendungan Sarakan, Kabupaten Tangerang.

”Saat ini eceng gondok dibersihkan dan diharapkan air segera surut,” kata Suparman.

Dibongkar

Suku Dinas Pekerjaan Umum (Sudin PU) Tata Air Jakarta Barat membongkar 60 bangunan dan WC umum di atas saluran air di RW 04 Kelurahan Jembatan Besi. Pembongkaran berlangsung ricuh dan hampir terjadi baku hantam.

Para pengelola WC Umum menolak pembongkaran karena sudah membayar uang jago.

”Pembongkaran berikutnya akan kami lakukan terhadap 200 bangunan di RW 9 dan RW 10 sepanjang tiga kilometer,” kata Kepala Sudin PU Tata Air Jakbar Heryanto.

Di tempat lain, Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito mengatakan akan menyelidiki potensi banjir di tiga titik jalan tol Ulujami-Pondok Aren, tol Jagorawi, dan tol Jakarta-Tangerang.

Jumat dini hari hingga Sabtu pekan lalu, jalan tol Ulujami- Pondok Aren tergenang air. Alhasil, Jakarta bagian selatan mengalami kemacetan luar biasa dan menimbulkan dampak ekonomi dan sosial. Macet melumpuhkan kawasan Bintaro, Tanah Kusir, Ciputat, dan Pondok Indah. (PIN/NDY/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau