Konservasi

Izin Pertambangan Ancam Orangutan

Kompas.com - 10/06/2010, 09:48 WIB

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Sekitar 13 perusahaan pertambangan batu bara belakangan ini mengapling sekitar 1.300 hektar lahan di kawasan hutan koridor milik hak pengusahaan hutan Inhutani I yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Belasan perusahaan tambang itu bisa menguasai daerah tersebut karena memiliki izin kuasa pertambangan (KP) dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pengaplingan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian pihak- pihak berwenang mengingat Hutan Lindung (HL) Sungai Wain adalah habitat orangutan dan beruang madu terbaik yang dimiliki Balikpapan. Koridor yang dikapling termasuk kawasan jelajah satwa-satwa langka itu, khususnya saat mereka mencari makanan.

Demikian penekanan Direktur Badan Pengelola HL Sungai Wain Purwanto di Balikpapan, Rabu (9/6). ”Jika kawasan koridor itu ditambang, daerah jelajah satwa-satwa yang ada di HL Sungai Wain semakin sempit. Sungai Wain sendiri luasnya kurang dari 10.000 hektar,” katanya mengingatkan.

Menurut Purwanto, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait pengaplingan hutan di koridor HL Sungai Wain itu. Sebab, kawasan tersebut bukan berada di wilayah Balikpapan, melainkan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. ”Kami mengusulkan agar kawasan koridor itu masuk daerah tambahan Hutan Lindung Sungai Wain,” katanya.

Wilayah yang diusulkan masuk HL Sungai Wain, menurut Purwanto, sekitar 6.000 hektar. Usulan sudah diajukan kepada Gubernur Kalimantan Timur dan Wali Kota Balikpapan. ”Sekitar 4.000 hektar lahan yang diusulkan masuk HL Sungai Wain saat ini berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, sedangkan 2.000 hektar lagi masuk wilayah Balikpapan,” katanya.

Selain masalah batu bara, pada koridor yang menjadi lokasi pembangunan jembatan Pulau Balang—jembatan yang akan menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara—itu warga kini juga banyak melakukan pengaplingan. Hal itu tecermin dari papan-papan nama pemiliknya sepanjang lebih kurang 15 kilometer. (FUL/BRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau