Lumpur lapindo

Arteri Porong Diperkirakan Selesai April 2011

Kompas.com - 11/06/2010, 05:39 WIB

SIDOARJO, KOMPAS - Pembangunan jalan arteri Porong, pengganti Jalan Raya Porong, diperkirakan selesai April 2011. Jika target itu tidak meleset, tahun mendatang berarti masyarakat punya empat alternatif jalan untuk menuju arah timur Jawa Timur.

Kepala Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Soenarso mengatakan, pembebasan lahan ditargetkan selesai Juli 2010. BPLS dan pemerintah sudah menyepakati konsinyasi untuk membebaskan lahan yang dibutuhkan dalam pemindahan jalan itu.

”Kalau Juli (pembebasan lahan) beres, kami perkirakan arteri Porong bisa dipakai April 2011,” kata Soenarso di sela-sela peringatan satu tahun Jembatan Suramadu Sidoarjo, Kamis (10/6). Peringatan satu tahun Jembatan Suramadu itu dihadiri Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.

Soenarso menambahkan, salah satu kendala pembebasan lahan adalah adanya enam bidang tanah kas desa (TKD) yang harus dibebaskan dengan cara tukar guling. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa, tukar guling TKD harus dilakukan dalam wilayah satu desa.

Mengingat peraturan itu tidak mudah direalisasikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) kemudian meminta izin khusus kepada Kementerian Dalam Negeri agar TKD yang harus dibebaskan bisa diganti dengan tanah di desa lain dalam lingkup satu kabupaten. ”(Untuk itu) Sudah ada alternatif dari Kementerian Dalam Negeri,” kata Soenarso.

Relokasi membutuhkan 123,7 hektar lahan. Saat ini baru 71 persen lahan yang

dibebaskan. Setelah ada izin untuk konsinyasi dan cara pergantian TKD, BPLS optimistis pembebasan lahan akan berjalan lebih lancar.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Mahdi menambahkan, pihaknya sudah berusaha mendekati sekitar 100 pemilik lahan yang akan dilewati jalan arteri Porong.

”Mereka umumnya bisa mengerti dan mau melepaskan tanahnya. Kami berharap jalan baru segera selesai dan bisa dimanfaatkan,” katanya.

Alternatif

Menurut Hermanto Dardak, dengan selesainya arteri Porong nanti, masyarakat yang ingin menuju arah timur Jatim akan memiliki alternatif tambahan. Mereka bisa melewati Raya Porong lama, Krian-Mojosari, Kludan, dan arteri Porong.

Khusus untuk Jalan Raya Porong lama, lanjut Hermanto, pemerintah akan meninggikan badan jalan hingga 115 sentimeter. Peninggian itu dilakukan pada titik-titik yang ambles setelah muncul semburan-semburan gas di badan jalan. Saat ini titik-titik tersebut terendam setiap kali hujan turun.

Jalan arteri dinilai paling layak menjadi pengganti Jalan Raya Porong lama yang rata-rata dilewati 167.000 kendaraan bermotor per hari. Jalan alternatif Krian-Mojosari yang sudah dibuat empat lajur hanya mampu menampung maksimal 70.000 kendaraan setiap hari.

”Hampir 100.000 unit (kendaraan) tidak tertampung di jalan alternatif itu. Kalau pakai Kludan, hanya kendaraan kecil bisa lewat. Kendaraan besar yang mengangkut aneka produk Jatim tidak bisa lewat,” papar Mahdi.

Ia berharap penyelesaian pembangunan arteri Porong bisa tepat waktu. Apalagi, dalam beberapa kesempatan sebelumnya BPLS menyatakan jalan arteri itu bisa dipakai akhir tahun ini. ”Saya agak heran kalau Kepala BPLS malah menyatakan jalan baru selesai April 2011. Artinya hampir lima tahun setelah lumpur menyembur,” ujarnya. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau