Kerusakan lingkungan

Penambang Liar Pilih Bertahan

Kompas.com - 11/06/2010, 05:52 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS - Penambang liar galian C di sejumlah kawasan bukit karst di Kota Bandar Lampung menolak menghentikan aktivitasnya. Alasannya, tak ada pilihan lain.

Sebelumnya, desakan muncul agar aktivitas merusak atau menyalahi peruntukan wilayah perbukitan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dihentikan. Hal itu di antaranya diserukan Wahana Lingkungan Hidup Lampung.

Penelusuran di perbukitan di Bandar Lampung, Bukit Camang dan Bukit Kunyit, penambangan liar marak. Beberapa penambang meminta tak diusik.

”Kalau tidak begini, mau kerja apalagi? Kalau ada pilihan lain, dari dulu kami bergeser. Janganlah diusik-usik. Kami tidak mencari kaya, sekadar buat makan,” kata Hajiran (42), penambang di Bukit Camang, akhir pekan lalu.

Ia terusik kedatangan wartawan di area RTH itu. Di perbukitan tak jauh dari pusat keramaian Tanjungkarang itu, puluhan penambang beraktivitas. Tiap hari, belasan truk lalu lalang mengangkut batu.

Akibat eksploitasi puluhan tahun itu, bentang perbukitan berubah total. Lereng landai yang dulu banyak pohon kini terjal dan botak. Pemandangan mengerikan terlihat di perbukitan Kunyit di Teluk Betung, Kota Bandar Lampung. Bukit yang puluhan tahun lalu masih utuh satu bagian itu kini terpenggal-penggal karena penambangan. Di sekitarnya pun gersang, menyisakan segelintir pohon di puncak bukit.

Kota menghadap air

Menurut Yatno, pekerja tambang batu di Bukit Kunyit, pihaknya tak apatis terhadap rencana penghentian tambang, termasuk menjadikan Bukit Kunyit di dekat pantai bagian dari proyek Waterfront City (Kota Menghadap Air), yang dicetuskan Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno.

Rabu lalu, salah satu pasangan calon kepala daerah menandatangani kontrak politik dengan warga. Bila terpilih, mereka tak akan menggusur warga di sana.

Menurut Yakno, ratusan orang hidupnya bergantung pada penambangan liar. Jumlah pekerja tambang di sana 400 orang, baik penambang, buruh pengangkut batu, maupun sopir truk.

Ia mengakui, bekerja sebagai penambang berisiko tinggi. ”15 orang menjadi korban (meninggal) selama ini,” ungkapnya. Mereka rentan jatuh saat menggali di lereng bukit terjal atau tertimpa batuan besar.

Berdasarkan catatan Walhi Lampung, dari 32 kawasan gunung dan perbukitan di Lampung, seluruhnya terancam. Sembilan di antaranya, termasuk Bukit Camang dan Kunyit, hancur.

Akibatnya, luas RTH di Bandar Lampung berkurang, hanya tersisa 21 persen dari luas wilayah. Padahal, setiap daerah ditargetkan memiliki luas RTH setidaknya 30 persen. (JON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau