Keliling dunia

Pelaut Remaja Hilang Saat Badai

Kompas.com - 11/06/2010, 10:24 WIB

SAINT DENIS, KOMPAS.com — Operasi pertolongan dilancarkan, Kamis (10/6/2010), setelah pelaut remaja berusia 16 tahun, yang berusaha melakukan pelayaran solo keliling dunia, hilang saat badai di Samudra Hindia.

Kekhawatiran mengenai keselamatan Abby Sunderland meningkat setelah remaja pemberani tersebut kehilangan kontak telepon satelit dengan keluarganya di California, Selasa pagi, sebelum secara manual mengaktifkan dua lampu suar darurat tak lama setelah itu. Pihak berwenang di Reunion Island mengatakan, satu kapal nelayan, satu kapal patroli, dan satu kapal dagang telah dialihkan jalur pelayarannya ke lokasi nelayan muda tersebut, yang diduga berada sekitar 3.000 kilometer di sebelah tenggara pulau di Samudra Hindia itu.

Australian Maritime Safety Authority (AMSA) telah menyewa satu pesawat jet penumpang Qantas untuk terbang ke daerah tersebut. Pesawat itu, yang dijadwalkan lepas landas dari Perth, Jumat pagi, diperkirakan akan sampai di daerah sekitar kapal layar Abby sekitar pukul 03.00 GMT (10.00 WIB).

"Segera setelah pesawat itu berada di posisi, kami berharap mereka akan dapat melihat kapal layar Abby dan melakukan kontak dengan dia melalui radio," kata juru bicara AMSA, Carly Lusk, kepada ABC Radio. Ia menggambarkan kondisi di daerah tersebut sangat buruk.

"Angin di daerah itu memiliki kecepatan 90 kilometer per jam, jadi sangat berbahaya," kata Lusk.

Remaja perempuan itu mulai melakukan pelayarannya dari California pada Januari lalu di tengah kecaman bahwa rencana pelayarannya terlalu berbahaya karena itu akan membuat dia berada di Samudra Hindia selama musim dingin penuh badai di belahan Bumi selatan. Kapal layarnya, "Wild Eyes", yang memiliki panjang 12 meter, dilengkapi dengan satu tempat tidur kecil, alat pemanas air, dan lemari penyimpanan makanan kering dan dingin.

"Abby memiliki semua perlengkapan di kapal untuk menyelamatkan diri dari situasi kritis seperti ini," kata keluarga Sunderland, Kamis, dalam pernyataan di blog pelaut muda itu.

"Ia memiliki pakaian kering, pakaian penyelamat, rakit penyelamat, dan tas yang berisi perlengkapan darurat. Jika ia dapat menjaga suhu tubuh dan bertahan, bantuan akan datang sesegera mungkin," katanya.

Kakak laki-laki Abby, Zac (18), yang menyelesaikan pelayaran solonya sendiri keliling dunia tahun lalu saat berusia 17 tahun, mengatakan, adiknya telah menghadapi badai yang sangat dahsyat ketika keluarganya terakhir kali berbicara dengan dia hari Kamis sekitar pukul 05.00 waktu setempat (Jumat pukul 02.00 WIB).

"Kami masih berusaha memikirkan situasi pertolongan," kata Zac kepada radio lokal KNX. "Ada dua kapal yang menuju ke posisinya, satu di antaranya berada sekitar 40 jam, satu lagi 48 jam. Jadi sekarang kami hanya berusaha memikirkan apakah ada cara untuk tiba lebih cepat," katanya.

"Ia berada di tempat yang jauh dari mana-mana, berharap semuanya baik-baik saja. Tak ada yang benar-benar dapat kami ketahui secara pasti pada saat ini," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau