JAKARTA, KOMPAS.com — Perhelatan akbar sepak bola sejagat sebentar lagi di gelar di ujung benua Afrika. Tim-tim wahid dari belahan dunia pun juga telah bersiap menyambut pesta olahraga terbesar tersebut. Meski berjarak ribuan kilometer, tetapi gaungnya terdengar hingga ke pelosok Indonesia, negara yang memiliki penduduk terbesar keempat dunia. Meski tidak lolos, warga Indonesia tetap menyambut ajang sepak bola tersebut. Tepatnya di gang sempit, Gang Inpeksi, RT 03 RW 03, Raden Saleh Dua, Jakarta Pusat.
Jalan sepanjang 500 meter tersebut berhias diri. Berbagai grafiti negara peserta Piala Dunia menempel pada dinding-dinding rumah warga. WC umum, warung kelontong, posyandu, dan balai RW pun tidak luput dari tangan kreatif mereka. Memasuki gang kampung mereka, pengunjung langsung disambut dengan berbagai bendera peserta Piala Dunia yang berjejer di pagar yang membatasi jalan dengan anak Sungai Ciliwung.
Menurut Uwak (40), pencetus ide, warga di kampungnya memang rata-rata penggila sepak bola. "Rata-rata kami penggila bola, anak-anak, remaja hingga orang dewasa pada suka bola. Kami bahkan punya tim sepak bola dan aktif berlatih hingga saat ini, Persigas (Persatuan Sepak Bola Gang Satu) namanya," tambahnya.
Untuk menghias kampungnya, Uwak mengaku mengeluarkan dana sekitar Rp 2 juta. "Kita habis Rp 2 juta. Semuanya dana swadaya masyarakat di sini," jelasnya.
Selain menghiasi kampungnya, warga juga akan menggelar nonton bareng di balai RW. "Semuanya boleh nonton sepuasnya". Kita cuma punya TV 29 inci, kalau abang punya lebih gede, kita pinjem deh," kata Uwak sambil terkekeh. Sempat ada celoteh yang keluar dari mulut remaja usia 18 tahun, sambil tertawa ia berbicara, "Indonesia kapan nih, tahun 2050 kale," katanya sambil menahan tawa.
Sore ini mereka melakukan konvoi dengan kendaraan bermotor, sekitar 50 kendaraan berhias bendera peserta Piala Dunia siap mereka arak keliling Jakarta. Tujuannya cuma satu, "Mengajak warga lain ikut menyemarakkan Piala Dunia," kata Uwak, yang mengaku masih membujang. "Kita akan keliling Jakarta, kalo boleh kita akan lewat Monas dan berakhir di Stadion Senayan," kata Uwak, menutup pembicaraan dengan Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang