Honda Tutup Pabrik Ketiga

Kompas.com - 12/06/2010, 03:48 WIB

Beijing, JumatIndustri mobil Honda menutup pabrik ketiga di China, Jumat (11/6), akibat mogok kerja buruh yang menentang upah rendah yang melanda negeri itu dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah aksi bunuh diri akibat upah rendah memicu unjuk rasa dan mogok kerja di China.

”Produksi di Pabrik Honda Lock di Provinsi Guangdong berhenti akibat buruh mogok,” ujar Gao Xia, juru bicara PT Honda Motor (China).

Pabrik di Guangdong tersebut memproduksi perkakas kunci mobil, kunci pintu, dan suku cadang lain. Terdapat 1.500 pekerja di pabrik Honda Lock yang seluruh modalnya dimiliki Honda Motor.

Gao Xia belum menjelaskan penyebab mogok kerja itu. Pabrikan Honda menghasilkan 650.000 unit mobil setiap tahun di China.

Kantor berita China Xinhua melaporkan, Rabu malam, pekerja di Pabrik Honda Lock menuntut kenaikan upah dari 1.700 yuan per bulan (Rp 2,21 juta) menjadi 2.040 yuan per bulan atau sekitar Rp 2,55 juta.

Dong Zu Wen, pejabat setempat, menjelaskan, Honda menawarkan kenaikan gaji Rp 135.000 menjadi sekitar Rp 2,34 juta per bulan.

Awal pekan ini, dua pabrik suku cadang Honda di Provinsi Guangdong tutup hingga waktu yang tidak ditentukan karena mogok kerja buruh. Pabrik di Guangdong memproduksi suku cadang untuk pembuangan gas dan gigi penggerak.

Kantor pusat Honda di Tokyo, Jepang, mengatakan, aksi buruh tersebut tidak mengganggu produksi. Sebelumnya, ada dua aksi mogok di pabrik suku cadang Foshan Fengfu di Provinsi Guangdong yang 70 persen sahamnya dimiliki Yutaka Giken, sebuah anak perusahaan Honda.

Namun, Takayuki Fujii, seorang juru bicara Honda di Beijing, mengatakan, produksi di pabrik tersebut lumpuh.

”Aksi mogok ini membuat persediaan suku cadang di perakitan Honda menipis,” ujar Fujii.

Pekan lalu, mogok kerja di pabrik blok mesin Honda di Provinsi Guangdong berakhir setelah manajemen menawarkan kenaikan upah 24 persen. Saham Honda merosot 2,8 persen, Kamis (10/6), akibat rangkaian unjuk rasa di China.

Aksi mogok kerja dan unjuk rasa buruh merebak di pusat-pusat perindustrian China setelah 11 buruh pabrik Foxconn—perusahaan elektronika yang memasok Dell, Sony, Apple, dan Panasonic—bunuh diri karena tekanan ekonomi. Manajemen Foxconn akhirnya menaikkan upah hingga 70 persen menyusul bunuh diri belasan buruh mereka.

Kekerasan polisi

Awal pekan ini, polisi dan tentara China memukuli dan menangkap buruh mogok di sebuah pabrik karet di Provinsi Jiangsu, dekat Kota Shanghai. Sedikitnya 50 buruh terluka. Lima orang di antaranya luka parah akibat pukulan polisi dan tentara.

Sebanyak 2.000 buruh di pabrik mesin KOK di Kota Kunshan mogok kerja untuk menuntut perbaikan upah dan perbaikan kualitas lingkungan hidup.

Kekerasan meledak tatkala polisi mencegah buruh berunjuk rasa di jalan raya. Polisi dan tentara yang memblokir gerbang pabrik menghalangi para buruh yang berusaha keluar kompleks pabrik KOK. Sementara itu, buruh perempuan juga dipukuli aparat. Sebanyak 30 buruh ditangkap polisi seusai bentrokan.

Geoff Crothall dari Buletin Buruh China yang berbasis di Hongkong mengatakan, pekerja di China mulai bangkit menentang upah rendah dan kondisi kerja yang buruk. ”Sejak hukum perburuhan tahun 2008 diperbarui, para buruh semakin sadar akan hak-haknya,” ujar Crothall.

Menurut dia, gelombang aksi buruh akan terus berlanjut di China. Pemerintah Beijing diketahui berusaha menaikkan standar gaji untuk meredam gejolak sosial di negara berpenduduk lebih dari 1,25 miliar jiwa itu.

Akhir upah rendah

Kebangkitan para buruh di China diperkirakan menjadi akhir dari era upah rendah pekerja di China dan Asia. Pemerintahan Presiden Hu Jintao kini sangat memerhatikan distribusi kemakmuran dan bukan sekadar statistik pertumbuhan ekonomi yang hanya menyentuh kelompok pemodal.

”Presiden Hu Jintao memerhatikan distribusi kemakmuran bagi rakyat kecil,” kata pengamat ekonomi Universitas Tsinghua, Patrick Chovanec.

Pihak swasta banyak yang langsung berinisiatif menaikkan gaji. Merry Electronics, sebuah perusahaan di Shenzhen, menaikkan 17 persen gaji 7.000 pekerjanya.

Brian Jackson, analis dari Royal Bank of Canada yang berbasis di Hongkong, menyatakan, aksi buruh masih akan berlanjut beberapa bulan ke depan.

Arthur Kroebber dari kantor konsultan Dragonomics, Hongkong, menambahkan, pasokan buruh di pusat industri China menyusut akibat berkembangnya ekonomi di kawasan tengah dan barat. ”Di wilayah tersebut biaya hidup lebih rendah dan menguntungkan para buruh,” ujar Kroebber.

Saat ini, tingkat inflasi relatif berhasil ditekan di China meski pertumbuhan ekonomi merosot menyusul krisis ekonomi dunia tahun 2008 dan gejolak di negara-negara zona euro. (AFP/ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau