Teknologi bagi Si Kembar Siam

Kompas.com - 12/06/2010, 06:37 WIB

Kompas.com - Bayi kembar siam dalam banyak kasus perdempetannya kini berhasil dipisahkan. Operasi pemisahan mereka dilakukan dengan mengerahkan sejumlah tenaga ahli kedokteran dan teknologi pembedahan.

Operasi pemisahan bayi kembar siam di Indonesia memiliki beberapa catatan keberhasilan selama hampir 25 tahun. Pemisahan bayi kembar siam telah dirintis antara lain oleh Padmosantjojo dan Darmawan pada era medio 1980-an.

Padmosantjojo, ahli bedah syaraf, pada 21 Oktober 1987, berhasil memisahkan bayi kembar siam dempet kepala (kraniofagus), Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani. Ketika dioperasi, mereka yang lahir di Tanjungpinang 31 Juli 1987 itu belum genap berusia tiga bulan.

Pemisahan Yuliana-Yuliani yang dipimpin Iskandar Wahidiyat memiliki tingkat kesulitan tinggi. Batas bagian otak yang menyatu harus dipisahkan menggunakan pisau bedah dengan kesabaran dan ketelitian tinggi agar tidak mencederai otak yang memiliki fungsi luhur.

Untuk menutupi daerah ubun-ubun yang terbuka—seperempat bagian kepala—digunakan pencangkokan kulit punggung dan paha, yang tidak berambut sehingga bagian itu tidak berambut. Untuk mengatasi bagian yang botak, menurut Padmosantjojo ketika itu, bisa diatasi dengan menarik bagian yang berambut ke bagian yang tak berambut.

Keahlian para ahli bedah yang telah memasuki masa pensiun itu telah diturunkan pada generasi penerusnya untuk melakukan pemisahan-pemisahan selanjutnya. Sejak tahun 2008 hingga kini, Tim Pemisahan Bayi Kembar Siam Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) yang diketuai Bambang Supriyatno telah menangani enam kasus bayi dempet.

Bayi kembar siam ini, jelas Bambang yang juga Kepala Bagian Anak RSCM, umumnya dempet dada (torakofagus) dan dempet perut (abdomenofagus). Namun, Rabu (10/6) di RSCM, lahir bayi kembar dempet bokong (iskhiofagus) asal Bogor.

Kasus dempet dada dan perut pada bayi kembar siam ini berhasil diatasi, kata Bambang, ”Kunci keberhasilan pembedahan adalah pada penerapan radiologi atau pencitraan tiga dimensi, seperti CT Scan, untuk menampakkan organ dalam secara detail dan membuat simulasi pembedahannya,” katanya.

Sebelum dimulai proses pembedahan, jelas Chaula Djamaloeddin, Ketua Bagian Bedah Plastik FKUI, pada bayi dempet dada dan perut dilakukan pemasangan tissue expander agar kulit meregang hingga dapat menutup bagian dada atau perut yang terbuka pasca-pemisahan.

Peregangan jaringan kulit luar dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal dipilih lokasi di samping dada untuk menyelipkan kantong berbahan karet di bawah kulit luar hingga kantong yang lebarnya sekitar 10 sentimeter menyusup ke bagian dada. Kantong berkapasitas 400 cc ini diisi dengan cairan garam lewat selang di sisi bawahnya.

”Pengisian harus dilakukan secara bertahap untuk memungkinkan kulit menyesuaikan diri pada perubahan,” kata Chaula. Selama proses itu terjadi pertumbuhan jaringan kulit.

Bila pemasangan tissue expander itu tak memungkinkan, tindakan yang akan dilakukan adalah pencangkokan kulit dari bagian tubuh lain. Pada penanganan Nayla, misalnya, dokter mengambil jaringan kulit dari pahanya untuk menambah kulit di perutnya.

Pada penanganan bayi Nayla yang berukuran lebih kecil dan tidak memiliki tulang iga depan, ujar Bambang, dilakukan pemasangan ”sangkar” yang terbuat dari bahan titanium. Tujuannya untuk melindungi organ dalam dada, terutama jantung. Penanganan kasus bayi kembar siam pada masa lalu untuk menutup bagian dada menggunakan kawat baja tahan karat (stainless steel). Pemasangan sarana pelindung ini menyesuaikan pertumbuhan tulang dada si bayi.

Sementara itu, dalam proses pembedahan, Mulyadi M Djer, pakar jantung anak yang menjadi anggota tim dokter yang menangani operasi pemisahan mereka, menemukan lubang selebar 2 mm pada jantung Nayla. Penanganan kasus defek septum ventrikel (VSD), atau lubang di sekat ventrikel yang merupakan kasus jantung bawaan, dapat diatasi tanpa operasi.

Untuk menutup VSD digunakan amplatzer. Bila VSD berada di muskular, misalnya, dilakukan dengan menggunakan AMVO (Amplatzer Muscular VSD Occluder). Alat ini dimasukkan lewat kateter dari vena di lipat paha atau vena di leher.

Dempet bokong

Saat ini tim dokter operasi kembar siam RSCM tengah mempersiapkan penanganan kembar siam dempet bokong. Bayi kembar siam asal Bogor ini memiliki satu anus. Salah satu bayi dempet bokong ini tidak memiliki bentuk kaki yang sempurna dan posisinya sulit.

Namun, melihat kondisi umum mereka, ada kemungkinan pemisahan bisa dilakukan. Salah satu kaki bayi tersebut tetap tak dapat dipertahankan. Saat ini tim dokter masih mengobservasi teknis pembedahannya.

Nabila-Nayla kemarin masih dalam masa perawatan intensif di ICU (Intensive Care Unit) RSCM. ”Perlu waktu satu minggu menunggu pertumbuhan jaringan hingga menutup bekas operasi,” kata Mulyadi.

Nabila-Nayla dan bayi kembar siam asal Bogor merupakan kasus kelima dan keenam yang ditangani dokter FKUI/RSCM sejak tahun lalu. Proses pemisahan dilaksanakan pada tiga bayi kembar siam, termasuk Nabila-Nayle, semua berhasil.

Penanganan bayi kembar siam melibatkan lebih dari 50 dokter spesialis. Untuk bayi dempet di dada dan perut seperti Nabila-Nayla, operasi antara lain melibatkan spesialis bedah anak, bedah torak, bedah plastik, bedah ortopedi.

Kembar siam dapat terjadi karena adanya gangguan pada masa pembentukan janin pada 12-16 minggu usia kehamilan. Penyebab gangguan, antara lain adalah si ibu terlalu banyak minum obat, jamu, atau merokok. Penyebab kembar dempet hingg kini masih misterius.

Yuni Ikawati

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau