Laporan wartawan Tribunnews.com Mohamad Nurfahmi Budi dari Afrika Selatan
KOMPAS.com — Apa ciri khas paling kentara andai sebuah negara kedatangan ratusan ribu tamu sebagai konsekuensi dari status tuan rumah Piala Dunia? Tentu saja jaminan rasa aman dan kenyamanan. Indikator paling mudah tentu saja keberadaan petugas keamanan, baik polisi maupun petugas keamanan di semua tempat penting, mulai dari mal, terminal bus, stasiun kereta api sampai perempatan jalan.
Semua itu merupakan standar keamanan yang harus ada. Bahkan di beberapa tempat, faktor ini menjadi sebuah prioritas utama. Namun, jika Anda berkunjung ke Afrika Selatan sekarang, bersiaplah menggeleng-gelengkan kepala tanda heran.
Saya mengalami hal cukup aneh sepanjang satu pekan di bumi Safari ini. Petugas keamanan sangat jarang telihat sepanjang hari. Kalaupun ada, tidak di semua tempat. Keruan saja, sepekan berada di negara "Madiba" ini, saya selalu waswas dalam urusan keamanan. Apalagi, bukan rahasia umum kalau di Afsel tingkat kriminalitas sangat tinggi.
Tak pelak, kondisi tersebut membuat saya terheran-heran karena gelaran sebesar putaran final Piala Dunia seharusnya sudah memikirkan betapa kompleksnya faktor keamanan tersebut. Sekali lengah, tentu saja rasa malu luar biasa harus ditanggung tuan rumah.
Afsel sudah mendapat tamparan keras tatkala kejadian perampokan beruntun menimpa kalangan jurnalis dan satu warga negara Cile. Entah karena lalai atau ada masalah dengan tambahan pendapatan, polisi sepertinya telat bereaksi. Nyaris tak ada perubahan berarti sejak peristiwa memalukan untuk sekelas tuan rumah Piala Dunia.
Sampai menjelang partai perdana antara Afsel versus Meksiko, nyaris tak ada petugas polisi yang berkeliaran. Itulah yang membuat saya begitu waspada selama jalan kaki sekitar 3 kilometer menuju lokasi.
Untungnya, setelah selesai partai pembukaan yang berakhir seri, saya baru melihat rombongan polisi. Tidak tanggung-tanggung, lima mobil patroli plus empat mobil pemadam kebakaran sudah nongkrong di luar stadion. Saat itulah, untuk kali pertama saya melihat polisi bertugas dengan semestinya untuk memberi kenyamanan pada para penonton, terutama para warga asing.
Saya pun langsung merasakan layanan mereka secara maksimal. Mereka selalu menanyakan kondisi saya apakah sehat atau tidak, sebuah perhatian besar mengingat ini memang musim dingin. Begitu saya menjawab sedang menunggu sopir, mereka tidak lantas menghentikan pengawasan, tetapi tetap ada petugas yang mengamati setiap pergerakan saya. Sampai akhirnya sopir saya datang, polisi itu tetap melihat, seolah ingin memastikan kalau apa yang saya tunggu sudah tepat.
Saya langsung berpikir, mungkin memang adat polisi di Afsel baru keluar kalau selesai acara, bukan menjelang. Namun, yang terpenting adalah, akhirnya saya bisa melihat polisi berjaga-jaga dengan kekuatan maksimal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang