Kan: Jepang Bisa Bangkrut

Kompas.com - 12/06/2010, 10:18 WIB

TOKYO, KOMPAS.com - PM Jepang Naoto Kan memperingatkan bahwa negara ”Matahari Terbit” itu bisa terjerumus ke dalam kebangkrutan seperti yang dialami Yunani. Hal ini bisa terjadi jika tidak ada penanganan segera atas utang Jepang yang menggunung.

Walaupun sektor keuangan Jepang lebih stabil dibandingkan dengan Yunani—karena sebagian besar utang Jepang berasal dari dalam negeri—PM Kan, Jumat (11/6) di Tokyo, menekankan salah satu agenda utama adalah meningkatkan pungutan pajak.

Pada pidato pertamanya di Parlemen setelah berkuasa pada Kamis lalu, Kan mengatakan, Jepang, negara dengan kekuatan ekonomi kedua di dunia, tidak dapat membiarkan pemerintah terus terbenam dalam timbunan utang. Masalah itu diperberat dengan penduduk yang semakin tua dan semakin sedikit.

”Sulit tetap mempertahankan kebijakan ekonomi yang tergantung utang. Kita telah melihat bagaimana keadaan finansial di komunitas Eropa yang dipicu krisis Yunani. Keuangan kita juga dapat runtuh seperti itu jika kita hanya bergantung pada obligasi nasional dan membiarkan utang tidak diselesaikan,” ujarnya.

Jepang memiliki utang publik terbesar di antara negara-negara industri maju. Saat ini, utang Jepang mencapai 218,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2009.

Kan yang menjadi perdana menteri Jepang keenam dalam empat tahun terakhir ini sebelumnya adalah menteri keuangan. Dia berjanji pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan Bank Sentral Jepang untuk menghindari deflasi (kemerosotan ekonomi dengan tekanan harga-harga) dan akan terus fokus pada kebijakan kuat dan komprehensif.

Kan juga mengatakan, dia sedang mempertimbangkan kenaikan pajak, isu yang dihindari pemerintahan sebelumnya. Rincian langkah-langkah kebijakan finansial akan diumumkan akhir bulan ini. Kan juga menargetkan pertumbuhan ekonomi lebih dari 2 persen setiap tahun hingga tahun 2020.

Analis mengatakan, peringatan Kan itu berlebihan. Alasannya, investor yang memegang surat utang Pemerintah Jepang dipandang sebagai pemegang obligasi jangka panjang yang kurang tertarik memperjualbelikan obligasinya. Jepang tidak terlalu banyak memiliki utang luar negeri.

”Beda dengan Yunani yang memiliki utang luar negeri,” ujar Hiromichi Shirikawa, ekonom senior dari Credit Suisse Jepang. ”Jepang juga masih memiliki surplus perdagangan. Saya tidak sepakat jika dikatakan Jepang akan menghadapi krisis yang sama,” tambahnya lagi.

Berbeda dengan banyak negara di dunia yang menjerit, China ketiban arus modal masuk akibat krisis di Eropa dan ekonomi AS yang masih sempoyongan. Investasi portofolio, di luar investasi langsung seperti perusahaan, China melonjak drastis pada kuartal pertama, yakni 28,8 persen menjadi 2,81 triliun yuan dibandingkan tahun lalu.

Biro Statistik Nasional China juga mengumumkan, pertumbuhan terus terjadi di sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan sejenisnya.

Konflik” Jerman-Perancis Sementara itu, pertemuan antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang sedianya dijadwalkan pada Senin mendatang dibatalkan. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung 14 Juni mendatang.

Kedua pemimpin ini sering berbeda pendapat mengenai cara mengatasi krisis utang di Eropa. Pada Januari lalu, Perancis marah kepada Jerman karena menarik diri dari komitmen menyediakan dana talangan untuk negara yang terlilit utang.

Perancis mengatakan, karena ulah Jerman yang mengulur waktu, ongkos yang ditanggung akibat krisis membengkak dari hanya 15 miliar euro pada Januari menjadi 750 miliar euro. Ketika usulan tersebut akhirnya disetujui, Jerman menuduh bahwa program itu merupakan 95 persen keinginan Perancis.

Sarkozy menyerukan adanya pemerintahan ekonomi Eropa untuk mengatur perekonomian di zona euro. Usulan ini ditolak mentah-mentah oleh Merkel.(AP/Reuters/AFP/Joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau