Urung sudah tuan rumah Afrika Selatan menorehkan awal indah pada laga pembuka Piala Dunia 2010, seperti yang dibuat dua tim Afrika (Senegal dan Kamerun) saat secara berurutan mengawali Piala Dunia 2002 dan 1990 dengan kemenangan. Gol tendangan dahsyat gelandang kiri Siphiwe Tshabalala pada menit ke-55 sempat memberikan harapan indah itu.
Sesaat setelah gol itu tercipta, tribune atas Stadion Soccer City serasa bergetar dan seolah mau runtuh. Lengkingan suara terompet khas Afrika, vuvuzela, yang tak pernah henti-hentinya ditiup suporter ”Bafana Bafana” seakan mencapai klimaksnya.
Suaranya yang khas mengiringi selebrasi tarian rancak Tshabalala dan tiga rekannya di sudut lapangan sebelah kiri gawang kiper Meksiko, Oscar Perez. ”Itu gol luar biasa, sangat spesial bagi saya. Semacam kado atas penampilan ke-50 saya di timnas,” kata Tshabalala, yang kemudian terpilih sebagai pemain terbaik laga.
Tim tuan rumah awalnya tertekan oleh permainan menyerang Meksiko, yang sering hanya memasang tiga bek di lini pertahanan. Paul Aguilar, yang aslinya bek kanan, lebih banyak menyerang lewat sayap kanan. Begitu juga bek kiri Carlos Salcido atau Rafael Marquez, yang secara bergantian ikut naik.
Sedemikian tinggi
Apakah Vela
Afsel baru bangkit setelah dipoles ulang Pelatih Carlos Alberto Parreira saat turun minum. ”Bafana Bafana” kemudian memetik hasilnya lewat gol Tshabalala. Apakah pemain Afsel demam panggung sehingga baru panas di babak kedua? Dari pembawaan sebelum laga, sebenarnya tidak. Saat turun dari bus dan melewati lorong menuju lapangan, mereka menyanyi-nyanyi. Seperti biasa, Parreira memainkan pola 4-5-1 dengan menempatkan Katlego Mphela di ujung tombak, yang ditopang Steven Pienaar. Akan tetapi, baru di babak kedua mereka menemukan ritmenya.
Hasil 1-1 dianggap adil bagi kubu Afsel, termasuk Parreira, yang menyebut satu kemenangan lagi bakal meloloskan tim ke babak 16 besar. Persaingan di Grup A masih ketat. Terlebih setelah Uruguay menahan Perancis 0-0 di Cape Town. Afsel akan menantang Uruguay di Pretoria, 16 Juni, sementara Meksiko menjajal Perancis di Polokwane, sehari berikutnya. (Mh Samsul Hadi dari Johannesburg)