Analisis

Marquez Batalkan Pesta Besar Tuan Rumah

Kompas.com - 13/06/2010, 04:20 WIB

Urung sudah tuan rumah Afrika Selatan menorehkan awal indah pada laga pembuka Piala Dunia 2010, seperti yang dibuat dua tim Afrika (Senegal dan Kamerun) saat secara berurutan mengawali Piala Dunia 2002 dan 1990 dengan kemenangan. Gol tendangan dahsyat gelandang kiri Siphiwe Tshabalala pada menit ke-55 sempat memberikan harapan indah itu.

Sesaat setelah gol itu tercipta, tribune atas Stadion Soccer City serasa bergetar dan seolah mau runtuh. Lengkingan suara terompet khas Afrika, vuvuzela, yang tak pernah henti-hentinya ditiup suporter ”Bafana Bafana” seakan mencapai klimaksnya.

Suaranya yang khas mengiringi selebrasi tarian rancak Tshabalala dan tiga rekannya di sudut lapangan sebelah kiri gawang kiper Meksiko, Oscar Perez. ”Itu gol luar biasa, sangat spesial bagi saya. Semacam kado atas penampilan ke-50 saya di timnas,” kata Tshabalala, yang kemudian terpilih sebagai pemain terbaik laga.

Tim tuan rumah awalnya tertekan oleh permainan menyerang Meksiko, yang sering hanya memasang tiga bek di lini pertahanan. Paul Aguilar, yang aslinya bek kanan, lebih banyak menyerang lewat sayap kanan. Begitu juga bek kiri Carlos Salcido atau Rafael Marquez, yang secara bergantian ikut naik.

Sedemikian tinggi mood menyerang pasukan ”El Tri”, sering striker Guilllermo Franco, Carlos Vela, dan Giovani dos Santos berdiri sejajar di depan dan membuat Meksiko lebih sering bermain dalam formasi 3-4-3. Hasilnya, beberapa kali mereka mengancam kiper Afrika Selatan (Afsel), Itumeleng Khune, lewat Franco dua kali, Dos Santos sekali, serta gol Vela yang dianulir wasit Ravshan Irmatov (Uzbekistan). Dewa Piala Dunia memihak Afsel, yang saat itu batal ditemani mantan Presiden Nelson Mandela yang berduka akibat kematian cicitnya.

Apakah Vela off-side? ”Saya tak melihatnya dengan jelas. Tim kami bermain superior ketimbang lawan,” kata Rodrigo Aguilar salah satu suporter Meksiko. Vela memang off-side. Saat mendapat bola yang dia ceploskan ke gawang Afsel, masih ada satu pemain Afsel di bawah mistar. Namun, Vela mendapatkan bola dari arah wilayah permainan Meksiko dan hanya tersisa satu pemain Afsel, sehingga dia tetap berposisi off-side karena mendahului bola. Namun—ini yang patut dicontoh insan sepak bola Tanah Air—tak ada protes keras dari pemain Meksiko.

Afsel baru bangkit setelah dipoles ulang Pelatih Carlos Alberto Parreira saat turun minum. ”Bafana Bafana” kemudian memetik hasilnya lewat gol Tshabalala. Apakah pemain Afsel demam panggung sehingga baru panas di babak kedua? Dari pembawaan sebelum laga, sebenarnya tidak. Saat turun dari bus dan melewati lorong menuju lapangan, mereka menyanyi-nyanyi. Seperti biasa, Parreira memainkan pola 4-5-1 dengan menempatkan Katlego Mphela di ujung tombak, yang ditopang Steven Pienaar. Akan tetapi, baru di babak kedua mereka menemukan ritmenya.

Hasil 1-1 dianggap adil bagi kubu Afsel, termasuk Parreira, yang menyebut satu kemenangan lagi bakal meloloskan tim ke babak 16 besar. Persaingan di Grup A masih ketat. Terlebih setelah Uruguay menahan Perancis 0-0 di Cape Town. Afsel akan menantang Uruguay di Pretoria, 16 Juni, sementara Meksiko menjajal Perancis di Polokwane, sehari berikutnya. (Mh Samsul Hadi dari Johannesburg)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau