Penjaga gawang

Green: "Blunder Ini Memalukan"

Kompas.com - 14/06/2010, 05:44 WIB

Rustenburg, Kompas - Meski gagal memetik kemenangan pada laga perdana lawan Amerika Serikat akibat blunder memalukan kiper Robert Green, pemain Inggris ingin tetap dilihat gagah. Mereka keluar dari ruang ganti, melewati area mixed zone (tempat wawancara dengan media) dengan memakai jas dan berdasi, karya perancang busana Mark & Spencer.

Gara-gara blunder Green, Inggris ditahan Amerika Serikat (AS) 1-1 pada laga Grup C di Stadion Royal Bafokeng, Rustenburg, Sabtu (12/6). Namun, semua pemain tak ingin menyalahkan Green. Kiper cadangan David James menyebut blunder itu pengaruh dari bola yang sulit dikendalikan dan semua pihak tetap mendukung Green.

Gelandang Frank Lampard menyesalkan gol itu terjadi, tetapi tak mau larut dan ingin menatap dua laga berikutnya. Wayne Rooney, yang tampil di bawah performa terbaiknya, tak mau berkomentar.

Kiper Amerika Serikat (AS), Tim Howard, justru memperlihatkan simpatinya. ”Dia melakukan beberapa penyelamatan bagus, tetapi bola lagi kurang bagus,” katanya.

Bek John Terry juga mengungkapkan perasaan serupa. ”Ya, kesalahan telah terjadi. Seperti yang diharapkan pelatih, semua diminta tetap mendukung Green,” katanya.

Namun, di antara pemain Inggris, yang paling ditunggu-tunggu wartawan adalah Green. Begitu kiper West Ham United ini melintas, wawancara dengan Terry langsung terhenti dan beralih kepadanya. Green tegar menghadapi cecaran media. Bahkan hingga tiga kali di kumpulan wartawan berbeda ia memberikan keterangan.

Berikut petikan wawancara dengan Green, yang diikuti wartawan Kompas, MH Samsul Hadi, seusai laga:

Tanya (T): (Green) Apa yang sebenarnya terjadi?

Jawab (J): Ya. Itu kesalahan. Anda tahu, yang penting itu tidak memengaruhi penampilan Anda berikutnya. Itulah pentingnya Anda mempersiapkan mental. Jika mental Anda tidak siap dalam laga seperti ini, Anda bisa trauma. Anda tahu, itu sudah terjadi. Ini memalukan. Anda tidak ingin itu terjadi. Begitulah hidup, dan Anda harus terus melangkah.

T: Apakah ini memengaruhi psikologi Anda jika nanti harus duduk di bangku cadangan?

J: Saya berumur 30 tahun, dan laki-laki. Ini bagian hidup yang harus Anda hadapi dengan mental kuat. Saya tahu, kejadian ini topik yang bakal kalian tulis. Tapi, saya cukup kuat memikulnya dan cukup kuat melangkah.

T: Mungkin jika kiper lebih muda akan lebih terpengaruh?

J: Ya. Anda tahu sendiri masa muda saya. Jika terjadi saat itu, mungkin ini bakal lebih memengaruhi mental. Namun, Anda tahu, begitu saya bangkit dari lapangan, saya harus mengubahnya dan berusaha cermat menangkap bola. Oke, saya sadar, ini hidup, saya melangkah dan tidak terpengaruh pada 50 menit berikutnya.

T: Apakah bola bergulir tidak normal atau Anda…?

J: Tidak. Anda tahu, saya tak ingin kecolongan bola separah itu. Bola memang seperti agak liar sehingga saya salah bergerak. Namun, ini hanya mencari-cari alasan, dan saya tidak ingin demikian.

T: Apa kata pelatih setelah laga?

J: Enggak ada masalah. Kita terus melangkah ke depan. Itu sebabnya saya tegar berdiri di hadapan kalian. Saya cukup kuat untuk terus melangkah.

T: Apakah Anda siap jika dipercaya tampil pada laga berikutnya?

J: Tentu saja. Saya pemain. Saya cukup kuat untuk bermain. Saya ingin selalu tampil di setiap pertandingan, terlepas saya telah membuat kesalahan. Saya ingin terus bermain demi negara.

T: Soal penampilan tim secara keseluruhan 90 menit?

J: Ya, ini penampilan sepak bola gaya Inggris, termasuk Liga Primer. Partai ini lebih dari sekadar laga internasional pembuka Piala Dunia. Kami membuat banyak peluang dan, ya... kami bisa tampil lebih bagus. Saya pikul tanggung jawab soal penampilan saya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau