CAPE TOWN, KOMPAS.com — Italia datang ke Afrika Selatan dengan pasukan yang sebagian besar ikut menjadi juara pada Piala Dunia 2006. Pelatih Marcello Lippi menyertakan sembilan pemain yang berhasil mengangkat trofi kejuaraan antarnegara paling bergengsi tersebut di Jerman pada empat tahun silam.
Tak heran, banyak suara sumbang yang muncul karena kekuatan Italia dinilai sudah loyo. Pasalnya, "Azzurri" diperkuat para pemain tua, yang tentu saja akan sangat sulit bersaing dengan tim-tim dari negara lain yang tampil pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010.
Namun, Lippi tutup telinga. Pelatih berambut pirang ini mengatakan bahwa pertarungan di Afsel hanya sebulan. "Jadi, tidak masalah," ujar Lippi menjawab berbagai kritikan yang muncul terhadap "Squadra Azzurra". "Dalam hal ini, kuah terbaik dimasak di atas panci tua," ungkapnya.
Benarkah? Pembuktian terhadap hal itu akan terjadi pada Selasa (15/6/2010) dini hari ketika mereka diuji tim dari Amerika Selatan, Paraguay, dalam laga perdana penyisihan Grup F. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Cape Town, Cape Town, ini akan disiarkan secara langsung oleh RCTI pada pukul 01.30 WIB.
Bicara prestasi, Paraguay mungkin tidak sebanding dengan Italia, yang sudah empat kali jadi juara dunia. Namun, untuk pertemuan kali ini, Italia harus mewaspadainya karena "Los Guaranies" datang dengan status peringkat tiga zona CONMEBOL pada penyisihan Piala Dunia lalu.
Selain itu, Paraguay juga mencatat hasil cukup memuaskan selama persiapannya menghadapi putaran final di Afsel. Mereka hanya menderita satu kekalahan ketika melawan Republik Irlandia. Dalam tiga laga lainnya, "La Albirroja" menang atas Korea Utara dan Yunani serta bermain imbang melawan Pantai Gading.
Hanya, rekor pertemuan berpihak kepada Italia. Dalam dua pertemuan, "La Nazionale" selalu unggul, yaitu ketika menang 2-0 pada Piala Dunia Brasil 1950 dan dalam pertandingan persahabatan tahun 1998, yang berakhir dengan 3-1.
Di samping itu, kematangan pemain akan menjadi nilai lebih bagi Italia, seperti yang diungkapkan bek Fabio Cannavaro. Menurut kapten yang mengangkat trofi Piala Dunia 2006 tersebut, Italia sulit ditandingi.
"Kami tidak memiliki pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Wayne Rooney, dan kami juga tidak bisa bermain seperti Brasil atau Spanyol atau Portugal. Namun, ketika datang sebagai juara bertahan, tidak ada yang bisa menandingi kami," ungkap Cannavaro, yang 13 September nanti akan berusia 37 tahun.
Pernyataan pemain veteran itu diamini oleh Gianluigi Buffon. Penjaga gawang nomor satu Gli Azzurri itu mengatakan bahwa mereka memiliki kualitas untuk mempertahankan gelar.
"Kami memiliki segala kualitas yang diperlukan untuk mengamankan gelar kami. Namun, tentu saja tidak mudah untuk melakukannya. Kami di sini tanpa obsesi untuk menang. Akan tetapi perlu ditegaskan, kami bisa bermain dengan baik," ujar Buffon kepada Le Figaro.
Kubu Paraguay pun tak kalah gertak. Meskipun kurang difavoritkan dalam pertandingan ini, mereka bertekad untuk menerapkan permainan yang akan menyulitkan Italia. Menguasai lini tengah akan menjadi kunci Paraguay untuk "mematikan" Italia.
"Pertandingan ini akan menjadi pertarungan di lapangan tengah dan bisa dipastikan akan sangat kompetitif. Kami akan bekerja keras untuk terus memainkan bola dan mencari posisi. Itulah cara untuk melukai Italia," ujar gelandang Paraguay, Enrique Vera.
Di Grup F ini, Italia dan Paraguay menjadi favorit untuk lolos ke babak kedua. Pasalnya, mereka tergabung dengan dua tim yang "tidak ternama", yaitu Selandia Baru dan Slowakia. Artinya, duel Italia dan Paraguay ini menjadi ujian tersulit, khususnya bagi para pemain tua Italia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang