JERUSALEM, SENIN -
”Krisis ini tidak bisa diselesaikan dengan bantuan kemanusiaan sesaat,” ujar Eileen Daly, Koordinator Palang Merah Internasional (ICRC), Senin (14/6) di Jalur Gaza.
ICRC menyalahkan blokade Israel dan minimnya koordinasi antara Faksi Hamas dan Fatah yang saling bersaing di Tepi Barat dan Jalur Gaza, wilayah Palestina. ”Mutu layanan kesehatan di Gaza mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Hukuman kolektif terhadap 1,5 juta penduduk Gaza selama empat tahun membuat situasi sangat buruk,” demikian pernyataan ICRC.
ICRC menerangkan, pemutusan listrik selama tujuh jam sehari sangat membahayakan pasien rawat. Diperlukan waktu beberapa menit sebelum generator dapat dihidupkan di pusat-pusat layanan kesehatan.
Alat medis, seperti mesin pernapasan buatan (respirator), harus diaktifkan secara manual. Mesin cuci darah terganggu dan pembedahan pasien terhenti karena ruang operasi mendadak gelap gulita.
Sepanjang tahun lalu, tiga kali tindakan operasi dibatalkan karena ketiadaan bahan bakar minyak untuk generator. Layanan pencucian pakaian dan perlengkapan rumah sakit juga sering terhenti karena ketiadaan listrik.
Sepanjang musim panas ini, situasi diperkirakan semakin memburuk.
ICRC mencatat, sebanyak 110 jenis obat dari 470 obat-obatan penting sudah hilang dari persediaan di Jalur Gaza. Obat penting tersebut mencakup sarana pengobatan kanker (kemoterapi) dan kanker darah (hemofilia) habis sama sekali karena tidak adanya koordinasi antara kelompok Hamas dan Fatah.
Menurut Eileen, petugas medis terpaksa memakai ulang sarana kesehatan, seperti tabung ventilator dan kantong kolostomi, karena ketiadaan pasokan. Padahal, kondisi itu dapat membahayakan nyawa pasien. Namun, tidak ada pilihan lain bagi para tenaga medis dan pasien mereka.
Jalur Gaza mengalami krisis parah setelah militan menculik seorang prajurit Israel, Gilad Shalit, bulan Juni 2006, dengan serangan ke wilayah Israel. Kelompok militan di Gaza menambah masalah dengan mengusir aparat keamanan Palestina yang mendukung Presiden Mahmoud Abbas dari Faksi Fatah.
Akibat peristiwa itu, Israel dan Mesir menjatuhkan blokade ekonomi terhadap Jalur Gaza. Kelompok militan bertekad menghancurkan negara Israel.
Dari Luksemburg dikabarkan bahwa ada sinyalemen melunak dari Israel untuk mengizinkan masuknya sejumlah kebutuhan logistik di Jalur Gaza.