Proyek 2.000 Rumah Murah Terhambat

Kompas.com - 15/06/2010, 04:54 WIB

Palembang, Kompas - Program pembangunan 2.000 rumah murah di Palembang oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, yang dimulai April 2009, hingga kini baru selesai sekitar 500 unit. Program itu berjalan lambat karena pihak pengembang yang membangun rumah murah itu kekurangan dana.

Program pembangunan 2.000 rumah murah itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Palembang pada Desember 2008. Program itu adalah membangun 1.000 unit rumah tipe 36 di Jakabaring dan 1.000 unit rumah tipe 21 di Gandus.

Rumah murah tipe 21 itu untuk warga miskin, seperti tukang becak, tukang perahu, dan buruh. Rumah tipe 36 untuk pegawai negeri sipil, guru, dan anggota TNI/Polri. Pembayaran dilakukan dengan mencicil Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per hari selama 10 tahun. Harga rumah tipe 21 Rp 25 juta dan harga tipe 36 Rp 35 juta.

”Saat ini pengembang sudah kehabisan napas. Dana dari kredit belum cair untuk melanjutkan pembangunan rumah murah,” kata Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Senin (14/6).

Menurut Alex, kredit belum cair karena ada beberapa persyaratan yang belum dipenuhi. Pemprov Sumsel siap menjadi penjamin supaya dana untuk pengembang dapat dikucurkan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Sumsel Rizal Abdullah menjelaskan, pembangunan rumah murah tidak berhenti total, tetapi mengalami kelambatan. Penyebabnya, belum dilakukan akad kredit rumah murah sehingga pengembang belum dibayar. Supaya pembangunan murah kembali lancar, akad kredit harus dipercepat.

Rizal menuturkan, akad kredit belum dapat dilaksanakan karena banyaknya peminat rumah murah yang harus diseleksi secara ketat. Jumlah pendaftar rumah murah sekitar 19.000 orang. ”Para pendaftar, seperti tukang ojek dan tukang becak, harus diteliti kemampuannya membayar cicilan rumah murah,” katanya.

Ia menambahkan, faktor cuaca juga menjadi penghambat. Hujan menyebabkan lokasi pembangunan rumah murah tergenang air. Saat ini kondisi di lokasi mulai kering sehingga pembangunan bisa dipercepat.

Kehabisan modal

Manajer Satuan Pengembangan dan Kebijakan Bank Sumsel Babel Edison sebagai pihak yang mengucurkan kredit pembangunan rumah murah mengatakan, pengembang kehabisan modal setelah membangun ratusan rumah murah. Padahal, kredit pemilikan rumah (KPR) untuk rumah murah belum bergulir. Seharusnya, dana KPR rumah murah digulirkan kembali kepada pengembang supaya dapat melanjutkan pembangunan.

”KPR belum bergulir karena seleksi penerima rumah murah belum selesai. KPR harus ada jaminan tanah dan rumah. Tanah yang digunakan milik Pemprov Sumsel sehingga harus ada surat keputusan hibah,” kata Edison.

Menurut Lison (48), pengawas dari PT Revari Putra Pratama sebagai salah satu pengembang, pembangunan rumah tersebut terhambat karena belum dilakukan akad kredit sehingga belum ada dana. (WAD)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau