Ghana berada di atas angin untuk lolos ke babak 16 besar setelah memukul Serbia 1-0 (0-0) lewat tendangan penalti pada lima menit terakhir laga Grup D di Stadion Loftus Versfeld, Pretoria, Minggu lalu. Mereka akan menghadapi tim yang terpukul moralnya karena kalah telak 0-4 dari Jerman, yaitu Australia, pada laga berikutnya di Rustenburg, 19 Juni mendatang.
Situasi sebaliknya dihadapi Serbia. Dengan kekalahan itu, mereka seperti tengah mendaki bukit tinggi terjal dan bisa membuat mereka terpeleset. Kekalahan ini mengingatkan mereka saat tampil di Piala Dunia 2006 Jerman di bawah bendera Serbia- Montenegro.
Saat itu, Dejan Stankovic dan kawan-kawan juga kalah 0-1 pada laga perdana dari Belanda, lalu dilibas Argentina 0-6, dan kalah 2-3 dari Pantai Gading pada laga terakhir. Memori kelam itu kembali membayang dan bukan tidak mungkin terulang jika Pelatih Radomir Antic gagal membangun kepercayaan diri timnya.
Seperti di Jerman, lawan kedua Serbia adalah tim favorit, Jerman yang menggilas Australia 4-0. Pertarungan Jerman versus Serbia di Port Elizabeth, 18 Juni mendatang, diperkirakan bakal seru dan menjadi arena hidup- mati bagi pemain Serbia. ”Kami tentu akan bermain dengan cara berbeda pada dua laga berikutnya,” kata Antic dalam jumpa pers seusai laga.
Mengapa Serbia kalah dari Ghana, kesebelasan yang tidak tampil full team terkait absennya Michael Essien dan Sulley Muntari? Pelatih Antic terkesan tak mau mengakui keunggulan tim lawannya meski dari segi permainan Ghana lebih bermain taktis dan efektif. ”Saya tidak melihat mereka (Ghana) mencetak peluang yang sesungguhnya. Kami hanya kalah oleh satu kesalahan,” katanya.
Laga seperti akan berakhir imbang tanpa gol sebelum menit ke-85 ketika pemain cadangan Serbia, Zdravko Kuzmanovic, hand ball saat berusaha menghalau bola lambung. Striker Asamoah Gyan sukses mengeksekusi penalti. Pelatih Ghana, Milovan Rajevac, yang asal Serbia itu menyebut timnya menang karena beruntung.
Sambil tidak lupa meminta maaf kepada Serbia, ia menyatakan, kemenangan Ghana adalah kemenangan seluruh Afrika. ”Kami begitu gembira, satu tim Afrika menang atas tim kuat Eropa. Kami gembira jika semua Afrika ikut gembira (dengan kemenangan ini),” katanya.
Bagi publik bola Afrika, kemenangan itu diharapkan bisa menjadi virus yang menular pada empat tim wakil Afrika lainnya (tuan rumah Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, dan Pantai Gading). Kecuali Pantai Gading yang mengawali laga Selasa ini melawan Portugal, semua tim itu telah bertanding.
Afsel masih berpeluang setelah seri 1-1 lawan Meksiko. Nigeria, meski kalah 0-1 dari Argentina, juga belum tertutup kans mereka ke babak 16 besar. Yang agak berat, mungkin Aljazair yang baru kalah 0-1 dari Slovenia karena bakal menghadapi Inggris.
Kemenangan atas Serbia diperoleh Ghana lewat permainan yang lebih taktis dan tajam dalam membangun serangan. Meski hanya menempatkan Gyan di lini depan, barisan gelandang mereka sangat solid dan tangguh. Lini belakang juga kokoh, bak tembok benteng yang sulit ditembus Nikola Zigic dan kawan-kawan.
Gelandang kiri Andre Ayew, gelandang bertahan Kevin Prince Boateng, Anthony Annan, dan gelandang serang Kwadwo Asamoah begitu kompak dalam menguasai lapangan tengah. Mereka mampu memaksa Dejan Stankovic, yang tenaganya mulai berkurang karena faktor usia, berposisi agak ke dalam.
Tidak ada jalan lain, Serbia memainkan bola-bola panjang untuk membangun serangan. Sayangnya, pada saat bersamaan ujung tombak mereka, terutama Marko Pantelic, sering ketinggalan dalam mengejar bola umpan panjang itu.
”Kami tidak melihat ada yang salah pada permainan kami, terutama pada babak pertama,” kata Antic.
Menit ke-74, Serbia kehilangan satu pemain ketika bek Aleksandar Lukovic diusir karena mendapat kartu kuning kedua. Tiga menit kemudian, Antic memasukkan bek cadangan Neven Subotic, tetapi pertahanan Serbia sudah tidak setangguh sebelumnya. Selain hand ball Kuzmanovic yang berbuah gol penalti Ghana, sebelum peluit akhir berbunyi Gyan sempat melesakkan tendangan keras yang membentur tiang gawang Serbia.
(Mh Samsul Hadi