Naoto Kan Tak Akan Kunjungi Kuil Perang

Kompas.com - 15/06/2010, 15:49 WIB

TOKYO, KOMPAS.com — Perdana Menteri Jepang yang baru, Naoto Kan, Selasa (15/6/2010), mengatakan, ia akan menjauhi kuil perang yang kontroversial di Tokyo, yang terlihat sebagai simbol agresi militer Jepang terhadap Asia.

"Kriminal perang kelas A dikubur di Kuil Yasukuni," kata Kan di hadapan majelis atas. "Ini hal yang bermasalah dengan perdana menteri atau anggota kabinet untuk mengunjungi. Saya tidak berencana untuk mengunjungi kuil itu selama saya menjabat," tambahnya.

Kuil Yasukuni, yang menghormati 2,5 juta tentara yang tewas saat perang, termasuk 14 penjahat perang tinggi, merupakan penghinaan terutama terhadap China dan kedua Korea yang menderita atas agresi Jepang sebelum dan selama Perang Dunia Kedua. Kan dan partainya yang bergaris tengah-kiri, Partai Demokrat Jepang, yang berkuasa sejak September tahun lalu, telah lama menentang kunjungan ke Yasukuni oleh PM konservatif terdahulu dan menganjurkan untuk membangun monumen peringatan perang non-agama.

Pendahulu Kan, Yukio Hatoyama, yang mengundurkan diri secara tiba-tiba bulan ini karena ketidakmampuan dalam memindahkan markas udara AS di Pulau Okinawa, menahan diri untuk tidak mengunjungi kuil saat festival musim gugur pada Oktober tahun lalu.

Mantan perdana menteri konservatif Junichiro Koizumi, yang sekarang memimpin Partai Demokratik Liberal (LDP) yang beroposisi, berdoa setiap tahun pada kuil tersebut saat ia menjabat pada 2001-2006. Perjalanan tahunan Koizumi itu membuat marah China dan Korea Selatan, yang menolak untuk melakukan konferensi tingkat tinggi dengannya. Tiga penerus Koizumi dalam LDP menghindari kunjungan ke kuil tersebut, tetapi terkadang memberikan sumbangan tradisi, yang juga membuat marah Beijing dan Seoul.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau