Hasil ini menghambat langkah Portugal untuk, minimal, lolos dulu dari Grup G yang juga dihuni juara dunia lima kali, Brasil, dan Korea Utara.
Bagaimanapun, Ronaldo, dalam laga di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, itu, membuktikan dirinya sebagai pemain yang sangat berbahaya. Di menit ke-10, ia berusaha memanfaatkan ruang yang terbuka di hadapannya. Segera setelah menguasai bola dengan baik, dari luar kotak penalti, ia membalikkan badan dan menendang keras ke arah gawang yang dijaga Boubacar Barry.
Barry gagal menjangkau bola yang melesat ke arah kanan. Jika tidak mengenai tiang kanan, Kolo Toure dan kawan-kawan tentunya akan ketinggalan 0-1. Namun, hanya itulah satu-satunya peluang emas yang tercipta di babak pembuka.
Pertahanan Pantai Gading yang diperkuat Guy Demel berhasil mematikan usaha Ronaldo dan Portugal untuk menembus kotak penalti. Pasukan asuhan Eriksson sangat disiplin menghalau penetrasi Portugal. Tempo yang memanas mencapai puncaknya ketiga Demel menjatuhkan Ronaldo saat keduanya memperebutkan bola tidak jauh dari kotak penalti. Demel dan Ronaldo lantas bersitegang sampai wasit merasa perlu memberi kartu kuning kepada mereka.
Di sisi lain, barisan tengah Portugal tidak cukup tangguh menjamin suplai bola kepada lini depan. Striker Liedson kerap kali harus turun untuk mendapatkan bola. Gelandang Deco kurang gigih melakukan penetrasi yang berbahaya. Ia tercatat hanya satu kali membawa bola mendekati kotak penalti. Itupun dengan segera langsung bisa dipatahkan.
Sepanjang babak pertama serangan Pantai Gading banyak mengalir lewat sayap kanan pertahanan Portugal. Ismael Tiote dan Gervinho aktif berjuang menembus sayap kanan pertahanan Portugal.
Pantai Gading cukup kreatif. Setelah beberapa kali gagal menciptakan peluang mematikan dari sayap kanan pertahanan Portugal yang dikawal Ricardo Carvalho, mereka berusaha menembus dari sayap kiri pertahanan Portugal.
Kali ini giliran
Aruna Dindane yang kerap menyisir mencari celah untuk memberikan umpan mematikan ke jantung pertahanan Portugal. Sayangnya, Pelatih Portugal Carlos Queiroz memiliki Fabio Coentrao yang cukup gigih mematikan usaha Dindane itu.
Pada babak kedua, permainan ditandai dengan serangan Pantai Gading yang jauh lebih tajam. Salomon Kalou beberapa kali menciptakan peluang emas.
Eriksson menyadari betul, untuk merebut kemenangan, tidak ada cara selain mempertajam serangan timnya. Jalan yang ditempuh akhirnya mengganti Kalou dengan Didier Drogba. Pemain Chelsea ini diizinkan FIFA turun dengan memakai pelindung tangan khusus. Tangan Drogba patah saat menjalani laga pemanasan melawan Jepang, 4 Juni lalu.
Pergantian pemain juga dilakukan kubu Portugal. Queiroz, mantan asisten pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson, mengganti Deco dengan Tiago, sedangkan Danny digantikan dengan Simao.
Sayangnya, usaha kedua tim untuk mempertajam serangan gagal membuahkan gol. Mereka harus puas dengan satu poin.
Grup G Piala Dunia 2010 merupakan grup neraka. Ada Brasil sebagai kandidat juara dunia 2010. Ada Pantai Gading, Portugal, serta terakhir, Korea Utara. Dengan Brasil sebagai unggulan utama, hanya tersisa tempat bagi anggota grup lainnya di posisi kedua.
Tanpa bermaksud mengabaikan Korut, posisi kedua Grup G akhirnya menjadi rebutan antara Pantai Gading dan Portugal. Alhasil, duel kedua tim, kemarin, sangat krusial. Duel ini menentukan siapa yang akan lolos ke 16 besar dan siapa yang menempati posisi ketiga.
Portugal melaju ke Afsel dengan kurang meyakinkan. Mereka harus melewati play off karena gagal memuncaki grup kualifikasi. Di play off, Portugal mengalahkan Bosnia-Herzegovinea sehingga dapat pergi ke Afsel.
Sebaliknya, Pantai Gading tampil meyakinkan dalam kualifikasi, meski Eriksson baru ditunjuk sebagai pelatih pada Maret 2010. Meratanya kekuatan pemain Pantai Gading menjadi kunci keunggulan mereka.
Sebaliknya, Portugal selama ini dinilai terlalu bertumpu pada Ronaldo. Queiroz dianggap gagal meramu timnas Portugal sebagai satu kekuatan utuh yang mematikan, dengan memanfaatkan segenap potensi pemain mereka.
Pantai Gading baru dua kali menembus Piala Dunia 2010. Pada empat tahun silam, mereka juga menempati grup neraka. Gagal lolos penyisihan grup, Drogba dan kawan-kawan pun pulang lebih awal dari Jerman.
Sebaliknya, Portugal tampil gemilang di Jerman. Waktu itu, masih diasuh Luiz Felipe Scolari, Portugal menembus semifinal. Melihat permainan Portugal, kemarin, Queiroz tampaknya akan gagal menyamai pencapaian Scolari.