Video asusila mirip artis

Rapat Komisi III Pun Bahas Video Asusila

Kompas.com - 16/06/2010, 13:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah hampir tiga minggu ini tayangan video dewasa yang pemerannya mirip selebriti Nazriel Irham atau Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari menyita perhatian masyarakat di segala lapisan.

Indonesia seperti terhipnotis oleh cuplikan video yang beredar luas di internet itu. Mulai dari anak sekolah, masyarakat luas, hingga pejabat negara ikut bicara soal video ini.

Pembahasan ini pun tidak luput dari agenda kerja parlemen. Hari ini, Rabu (16/6/2010), Komisi I DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring yang salah satu agendanya adalah soal video tersebut.

Ternyata, tak hanya Komisi I DPR yang ramai membicarakan video asusila mirip artis itu. Ketika menggelar rapat kerja dengan Polri tentang rencana kerja Polri tahun 2011, anggota Komisi III, Imam Suroso dari F-PDIP, pun tak ketinggalan menyinggung soal video yang menggemparkan masyarakat tersebut.

"Saya benar-benar minta atensi Polri karena ini merusak mental anak cucu kita. Orang yang melihat saja bisa jadi kepingin. Dengan ditindak, ada efek jera, biar artis lain yang mencari sensasi menjadi tidak berani. Kalau tidak disikat, ini bisa merusak," ujar Imam di ruang Komisi III DPR, Jakarta.

Imam mengatakan, jika Satuan Detasemen Khusus 88 saja bisa menangkap teroris yang jejaknya sulit dilacak, tentu pelacakan penyebar video porno adalah hal yang tidak sulit dilakukan. "Jadi, saya minta dengan hormat untuk ditindak tegas," ujar Imam mengakhiri pertanyaannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau