Bola piala dunia

Wawancara dengan Perancang Jabulani

Kompas.com - 16/06/2010, 14:13 WIB

JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Bola resmi Piala Dunia 2010 terus mendapat kritik dari banyak pemain. Beberapa kiper seperti Gianluigi Buffon (Italia) dan Julio Cesar (Brasil) sudah mengeluhkan bola produksi Adidas yang tak stabil itu.

Para pertandingan Inggris lawan Amerika Serikat, kiper Robert Green melakukan blunder paling parah. Kiper Inggris itu berusaha menahan bola lurus dari tendangan pemain AS, tetapi bola bergulir ke gawangnya dan gol.

Setelah partai Belanda lawan Denmark, keluhan juga muncul dari Wesley Sneijder (Belanda) dan Nicklas Bendtner (Denmark). Menurut kedua pemain itu, Jabulani tidak stabil.

"Bola tak masalah jika dimainkan dengan tendangan-tendangan datar. Namun, jika sudah ditendang ke udara, bola tak bisa stabil. Harusnya mereka meneliti dulu sebelum dipakai," kata Bendtner.

Sementara Sneijder mengatakan, "Banyak yang aneh dari Jabulani. Sampai 25 menit saya harus melakukan adaptasi yang susah. Saya merasa kesulitan," kata Sneijder.

Keluhan-keluhan itu sudah diantisipasi oleh perancangnya, Hans-Peter Nuernberg. Kompas.com sengaja menemuinya pada Minggu (12/6/2010) di Sandton Convention Center untuk wawancara soal Jabulani. Dia didampingi Dr Andy Harlland, peneliti dari Universitas Loughborough yang menguji bola Jabulani itu. Berikut hasil wawancaranya. Halo, Anda pasti sudah dengar banyak keluhan tentang Jabulani? "Halo juga. Sudahlah. Banyak kritik yang sudah saya terima. Tapi, itu biasa. Setiap bola baru pasti ada kritik."

Apakah Anda tak menjadikan kritik itu sebagai masukan?

"Oh, tentu. Tapi, saya kira semua kritik itu tak berdasar. Sebab, semua hal yang mereka inginkan sudah dipenuhi oleh Jabulani."

Kalau begitu, kenapa masih ada kritik dari Buffon dan Cesar? "Saya kira mereka belum mencoba dengan saksama. Biasa, barang baru terkadang membuat orang merasa aneh. Namun, yang penting Jabulani sudah memenuhi ketentuan-ketentuan yang diharuskan. Selain itu, bola ini memiliki banyak kelebihan dibanding bola-bola sebelumnya."

Apa saja kelebihan Jabulani?

"Bola ini memiliki aerodinamis yang baik dan kalau ditendang melaju secara alami. Jadi, tidak akan ada gerakan-gerakan bola yang mengagetkan dan sulit diduga. Semua diukur dengan baik. Kalau bola ditendang ke udara, lajunya juga stabil sampai jarak 50 meter. Ini luar biasa." "Selain itu, bentuk bola sangat solid. Coba saya minta kertas Anda sesobek saja."

Hans-Peter Nuernberg kemudian mengambil kertas yang saya berikan. Kemudian, dia meletakkan bola Jabulani di atas kertas itu. "Lihat, bola tidak bergoyang dalam posisi datar. Ini menunjukkan bentuk bola sangat solid," katanya.

Kelebihan lain? "Ya, permukaan bola kami buat kasar, ada tekstur. Silakan raba dan cermati. Ini untuk menghindari defleksi yang terlalu sering. Kiper juga akan mudah menangkapnya."

Bagaimana bola itu dibuat?

"Bola dibuat di pabrik di China dengan pengawasan dan kontrol ketat. Ini buatan pabrik dengan bahan utama plastic polio dan plastic foam. Jadi, bentuk, ukuran, berat, dan kondisi udaranya bisa stabil, karena buatan pabrik, bukan tangan."

Lalu, kenapa bola itu masih saja dikritik tak stabil?

"Saya kira, yang salah bukan bolanya, tapi pemainnya. Apa pun bolanya, kalau sang pemain melakukan kesalahan, bola pasti mengarah ke arah yang salah."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau