Wisata alternatif

Pelajaran Hidup dari Sungai Senowo

Kompas.com - 16/06/2010, 16:26 WIB

Lebar Sungai Senowo di Dusun Tutup, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, hanya berkisar 1 hingga 1,5 meter. Namun, untuk menyeberang ke sana sungguh terasa sangat sulit. Pijakan untuk menyeberanginya adalah beragam bentuk batu-batu besar dan kecil dengan permukaan kasar dan tak rata.

Rombongan susah payah mengikuti "ketua regu" Romo Vincentius Kirjito Pr, yang berjalan mantap di barisan terdepan. Sesekali, Kirjito berhenti dan mengangkat sebelah kaki serta mengangkat kedua lengannya ke atas, seperti bersiap-siap akan terbang. "Jika sudah menemukan pijakan yang rata dan mantap, tidak sulit untuk melakukan gerakan ini," ujarnya, Minggu (13/6).

Dalam perjalanan selanjutnya, sekitar 10 meter menyusuri Sungai Senowo, Kirjito berulang-ulang menyampaikan hal yang sama, teknik untuk berjalan di sungai. Prinsipnya, jangan terburu-buru melangkahkan kaki kalau belum menemukan tempat yang rata untuk berpijak. Namun, usaha mencegah tubuh agar tidak terpeleset, apalagi mengangkat sebelah kaki seperti Kirjito, sungguh bukan perkara mudah!

Di balik semua susah payah itu, Kirjito mengatakan, sebenarnya ada pesan yang bisa dipetik dan diresapi mendalam. Perjalanan menempuh Sungai Senowo ibarat perjalanan hidup yang penuh liku dan tidak gampang dilalui. Keyakinan untuk melangkahkan kaki ke dalam air tidak lain juga menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan atau setiap akan melakukan sesuatu, kita juga harus memiliki dasar pijakan yang kuat.

"Ini sama seperti ketika manusia ingin menikah, dia harus memiliki pijakan kuat berupa pekerjaan yang mapan. Jika orang ingin memulai membuka usaha, dia pun harus memiliki modal serta relasi yang kuat sebagai pijakan awalnya," ujarnya.

Renungan inilah yang selalu disampaikan Kirjito kepada ratusan pengunjung yang datang untuk menikmati paket wisata menyusuri Sungai Senowo sepanjang 257 meter. Mereka yang datang dari berbagai kota besar di Indonesia ini adalah para pegawai dari berbagai perusahaan, ibu-ibu rumah tangga, anggota komunitas umat Katolik, serta para pelajar yang mengikuti program live in di Kecamatan Dukun.

Kirjito yang sudah menaruh perhatian pada konservasi air sejak tahun 2004 ini, mengatakan, pelajaran moral yang didapatkan dari penyusuran Sungai Senowo hanyalah satu dari sekian banyak pesan yang bisa disampaikan air.

Mengutip tulisan penulis Jepang, Masaro Emoto dalam bukunya "The Hidden Massages in Water" (2006), pesan tidak hanya bisa ditangkap dari air yang mengalir di sungai atau kolam. Bahkan, lebih jauh, air dalam tubuh manusia juga bisa melakukan kontak dengan air lain di sekelilingnya. "Perasaan seseorang, marah atau sedih, langsung terpancar dari wajahnya, dan perasaan itu pun tertangkap oleh orang lain. Karena itulah, apa yang dipancarkan oleh wajah disebut sebagai air muka," ujarnya.

Kirjito yang menjabat sebagai Romo Paroki Santa Maria Lourdes di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, ini mengatakan, Emoto juga pernah membuktikan adanya pertalian perasaan antara air dalam tubuh manusia dengan air di sebuah danau. Di depan danau yang ditumbuhi tanaman berbau busuk, Emoto sempat mengajak ratusan orang berdoa dan mengucapkan "I love you, Water!" Setelah dijalani selama seminggu, tanaman berbau busuk itu pun hilang dengan sendirinya.

Dengan melihat contoh tersebut, Kirjito juga meyakini jika kita melemparkan energi positif ke suatu komponen air yang ada di sekitar, kita pun akan mendapat tanggapan yang positif pula. "Berbuatlah setulus hati untuk mencintai air," ujarnya.

Maka, mulailah hari ini dengan semangat penuh kasih ala mendiang Mbah Surip, "I love you full, Water!" (Regina Rukmorini)  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau