Lebar Sungai Senowo di Dusun Tutup, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, hanya berkisar 1 hingga 1,5 meter. Namun, untuk menyeberang ke sana sungguh terasa sangat sulit. Pijakan untuk menyeberanginya adalah beragam bentuk batu-batu besar dan kecil dengan permukaan kasar dan tak rata.
Rombongan susah payah mengikuti "ketua regu" Romo Vincentius Kirjito Pr, yang berjalan mantap di barisan terdepan. Sesekali, Kirjito berhenti dan mengangkat sebelah kaki serta mengangkat kedua lengannya ke atas, seperti bersiap-siap akan terbang. "Jika sudah menemukan pijakan yang rata dan mantap, tidak sulit untuk melakukan gerakan ini," ujarnya, Minggu (13/6).
Dalam perjalanan selanjutnya, sekitar 10 meter menyusuri Sungai Senowo, Kirjito berulang-ulang menyampaikan hal yang sama, teknik untuk berjalan di sungai. Prinsipnya, jangan terburu-buru melangkahkan kaki kalau belum menemukan tempat yang rata untuk berpijak. Namun, usaha mencegah tubuh agar tidak terpeleset, apalagi mengangkat sebelah kaki seperti Kirjito, sungguh bukan perkara mudah!
Di balik semua susah payah itu, Kirjito mengatakan, sebenarnya ada pesan yang bisa dipetik dan diresapi mendalam. Perjalanan menempuh Sungai Senowo ibarat perjalanan hidup yang penuh liku dan tidak gampang dilalui. Keyakinan untuk melangkahkan kaki ke dalam air tidak lain juga menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan atau setiap akan melakukan sesuatu, kita juga harus memiliki dasar pijakan yang kuat.
"Ini sama seperti ketika manusia ingin menikah, dia harus memiliki pijakan kuat berupa pekerjaan yang mapan. Jika orang ingin memulai membuka usaha, dia pun harus memiliki modal serta relasi yang kuat sebagai pijakan awalnya," ujarnya.
Renungan inilah yang selalu disampaikan Kirjito kepada ratusan pengunjung yang datang untuk menikmati paket wisata menyusuri Sungai Senowo sepanjang 257 meter. Mereka yang datang dari berbagai kota besar di Indonesia ini adalah para pegawai dari berbagai perusahaan, ibu-ibu rumah tangga, anggota komunitas umat Katolik, serta para pelajar yang mengikuti program live in di Kecamatan Dukun.
Kirjito yang sudah menaruh perhatian pada konservasi air sejak tahun 2004 ini, mengatakan, pelajaran moral yang didapatkan dari penyusuran Sungai Senowo hanyalah satu dari sekian banyak pesan yang bisa disampaikan air.
Mengutip tulisan penulis Jepang, Masaro Emoto dalam bukunya "The Hidden Massages in Water" (2006), pesan tidak hanya bisa ditangkap dari air yang mengalir di sungai atau kolam. Bahkan, lebih jauh, air dalam tubuh manusia juga bisa melakukan kontak dengan air lain di sekelilingnya. "Perasaan seseorang, marah atau sedih, langsung terpancar dari wajahnya, dan perasaan itu pun tertangkap oleh orang lain. Karena itulah, apa yang dipancarkan oleh wajah disebut sebagai air muka," ujarnya.
Kirjito yang menjabat sebagai Romo Paroki Santa Maria Lourdes di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, ini mengatakan, Emoto juga pernah membuktikan adanya pertalian perasaan antara air dalam tubuh manusia dengan air di sebuah danau. Di depan danau yang ditumbuhi tanaman berbau busuk, Emoto sempat mengajak ratusan orang berdoa dan mengucapkan "I love you, Water!" Setelah dijalani selama seminggu, tanaman berbau busuk itu pun hilang dengan sendirinya.
Dengan melihat contoh tersebut, Kirjito juga meyakini jika kita melemparkan energi positif ke suatu komponen air yang ada di sekitar, kita pun akan mendapat tanggapan yang positif pula. "Berbuatlah setulus hati untuk mencintai air," ujarnya.
Maka, mulailah hari ini dengan semangat penuh kasih ala mendiang Mbah Surip, "I love you full, Water!" (Regina Rukmorini)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang