Pertemuan Politik Dilarang di Karachi

Kompas.com - 16/06/2010, 20:48 WIB

KARACHI, KOMPAS.com - Pakistan melarang pertemuan politik publik di kota terbesarnya Karachi dalam usaha mengawasi gelombang baru pembunuhan, kata seorang pejabat senior pemerintah, Rabu.

"Pemerintah melarang pertemuan-pertemuan politik publik selama satu bulan sebagai satu usaha mencegah pembunuhan berencana," kata Waqar Mehdi, seorang staf menteri besar Provinsi Sindh, yang ibu kotanya adalah Karachi. "Keputusan itu dibuat Selasa malam dan kami telah mengeluarkan satu pemberitahuan mengenai hal ini," katanya.

Tindakan itu diberlakukan pada semua pertemuan publik luas, unjuk-unjuk rasa dan rapat-rapat kecuali untuk pemakaman. "Ada kemungkinan terjadi aksi terorisme dalam pertemuan-pertemuan besar dan unjuk rasa karena teroris dapat memberikan dampak sangat merusak pada nyawa dan properti," kata Mehdi kepada AFP.

Pemerintah tidak mengeluarkan angka pasti, tetapi para pejabat keamanan mengatakan paling tidak 10 orang tewas bulan ini dalam pembunuhan-pembunuhan berencana di Karachi dan lebih dari 100 orang sejak awal tahun ini.

Kota berpenduduk 16 juta jiawa itu umumnya jarang dilanda serangan bom bom yang dilakukan kelompok yang punya hubungan dengan Taliban dan Al Qaeda  yang menghantam Pakistan barat laut tetapi diganggu oleh pembunuhan-pembunuhan sektarian dan etnik, keajahatan dan penculikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau