Ariel-Luna Ditantang Sumpah Pocong

Kompas.com - 16/06/2010, 22:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sikap penyanyi Nazriel Irham alias Ariel dan Luna Maya yang tak secara gentle mengakui bahwa merekalah pelaku video mesum tersebut membuat Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Hajar Indonesia sekaligus pengacara, Farhat Abbas, geram.

Farhat pun menantang Ariel dan Luna melakukan sumpah pocong untuk membuktikan ucapan mereka. "Sekarang berani enggak, Ariel, Luna, sumpah pocong. Sekalian OC Kaligis (kuasa hukum Ariel dan Luna)," kata Farhat, Jakarta, Rabu (16/6/2010).

Farhat meyakini betul bahwa video yang beredar dan menghebohkan itu dibintangi oleh kedua pasangan kekasih tersebut.

Menurut Farhat, langkah sumpah pocong ini diambil karena polisi juga kurang bersikap tegas dalam menangani kasus ini. Polisi telah memeriksa tiga artis tersebut,  Jumat (11/6/2010). Ariel dan Luna Maya sempat menjalani pemeriksaan, disusul Cut Tari yang mendatangi Mabes Polri pada Senin (14/6/2010).

Hingga kini, ketiga artis tersebut membantah telah berperan dalam video porno tersebut. Polisi menetapkan status ketiganya sebagai saksi. "Kalau polisi enggak tegas, maka mereka enggak akan ngaku," tandas Farhat. (ANI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau