Munas pks

PKS: Perubahan Bagian dari Demokrasi

Kompas.com - 17/06/2010, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berancang-ancang menawarkan warna baru atas identitas partainya. Momentum Musyawarah Nasional yang berlangsung 16-20 Juni boleh jadi dimanfaatkan sebagai garis awal perubahan.

Sekjen PKS Anis Matta mengatakan, partainya tak ingin menjadi market leader hanya di kalangan partai Islam. PKS ingin menjadi yang terdepan di antara semua partai dan ingin keluar dari pemetaan partai Islam dan partai nasionalis.

Wakil Sekjen PKS Fachri Hamzah mengungkapkan, perubahan itu merupakan sesuatu yang wajar dan merupakan bagian dari prosedur demokrasi. Partai sejatinya menjadi wadah berpolitik bagi semua kelompok.

"Ini juga bagian dari kedewasaan politik kita secara umum dan nasional. Apakah kita bangsa Indonesia ini memandang partai politik sebagai sarana bersama bagi semua kelompok apa pun suku dan golongannya untuk secara bersama-sama menyalurkan aspirasi masyarakat dan memimpin bangsa ini dengan tujuan bersama. Tanpa membedakan suku, agama, dan sebagainya," papar Fachri, Kamis (17/6/2010) di Gedung DPR, Jakarta.

Menurutnya, perubahan yang dilakukan PKS bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Partai lain kan juga ada dinamika antar kelompok. PDI-P, misalnya, ada Baitul Muslimin. Padahal, kita tahu warna kulit PDI-P selama ini merah, merah itu kan kita tahu artinya. Dinamika itu akan selalu ada, tapi bagaimana dinamika internal itu tampil," ujarnya.

Perubahan yang terjadi, ditegaskannya, tak bertabrakan dengan ideologi partai. Persepsi bahwa partai yang identik dengan suatu agama hanya untuk penganut agama tersebut, menurutnya, harus diperluas. "Sebenarnya enggak ada citra baru. Dari dulu kita memang seperti ini. Ini kan cuma tahapan internal politik kita saja," kata Fachri.

Hingga saat ini, terang Fachri, cukup banyak tokoh non-Muslim yang menjadi kader partainya. "Tidak ada sesuatu yang harus kita lihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Ini tahapan yang normal. Dalam demokrasi, Anda harus mewakili aspirasi rakyat. Anda mau menang di Bali yang mayoritas Hindu, tapi tidak mengajak masyarakat Hindu? Tidak bisa," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau