JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak sia-sia Pelatih Diego Maradona mempertahankan striker Gonzalo Higuain sebagai striker utama Argentina. Berkat kepiawaian "El Pipita", Argentina berhasil lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2010.
Kepastian "Albiceleste" menjadi tim pertama yang lolos ke fase gugur di turnamen ini dipastikan lewat tiga gol Higuain ke gawang Korea Selatan pada putaran kedua penyisihan grup, Kamis (17/6/2010). Argentina pun menang 4-1 dan sulit terkejar lawannya di Grup B.
Hat-trick yang dicetak Higuain itu menambah jumlah gol internasional menjadi lima biji dalam tujuh laga internasionalnya. Jumlah itu tidak banyak memang karena Higuain juga baru tujuh kali memperkuat tim nasional. Penunjukannya merupakan eksperimen Maradona, yang oleh sebagian pengamat sepak bola tidak becus menjadi pelatih.
Nama Higuain setidaknya telah mengalahkan Diego Milito, striker yang menjadi buah bibir di negara Eropa. Dibandingkan Higuain, prestasi Milito jelas lebih bersinar. Musim lalu, Milito memberikan tiga gelar bersamaan untuk Inter Milan, sementara Higuain gagal memberikan satu titel pun untuk Real Madrid.
Namun, Maradona sangat yakin akan kemampuan Higuain. Ia percaya pemain 22 tahun itu bisa menjadi tumpuan harapan "Albiceleste" pada Piala Dunia kali ini. Penolakan Higuain saat dipanggil ke timnas pada 2006 tidak membuat Maradona hilang harapan kepada pemain berjuluk "El Pipita".
Sebagai pemain keturunan Argentina-Perancis, wajar jika waktu itu Higuain menolak panggilan Pelatih Alfio Basile untuk memperkuat Argentina dalam duel persahabatan lawan Yunani. Dalam usia 18 tahun, Higuain pasti masih berpikir-pikir tentang timnas mana yang akan dibelanya. Agar adil, penolakan serupa juga pernah ia lakukan terhadap permintaan Raymond Domenech untuk masuk ke skuad Perancis, negara tempat Higuain pernah tinggal hingga umur 10 bulan.
Ayah Higuain, Jorge Nicolas, adalah mantan pemain profesional dan pemandu bakat yang bekerja untuk Daniel Passarella, mantan pemain dan pelatih Argentina. Berkat Passarella pula, Higuain menjatuhkan pilihannya kepada negara di Amerika Selatan tersebut. Passarella-lah yang merekrut Higuain sebagai pemain profesional di River Plate pada 2004.
Kecepatan dan kepintarannya membaca permainan kemudian membawa "El Pipita" ke tanah Spanyol dan bergabung dengan Real Madrid. Di sana ia harus bersaing ketat dengan striker senior seperti Raul Gonzalez dan Ruud van Nistelrooy. Musim lalu, Higuain juga berebut tempat dengan Karim Benzema meski akhirnya dimenangkan oleh Higuain. Pada musim 2008/2009, ia berhasil menyarangkan 22 gol di liga, lalu diperbaikinya lagi musim lalu dengan 27 gol.
Prestasi itu kemudian membuat namanya ikut masuk ke dalam skuad Argentina dalam duel kualifikasi Piala Dunia 2010 lawan Peru, 10 Oktober tahun lalu. Itu pun setelah media mengkritik Maradona karena tak memasukkan nama pemain Madrid itu pada masa lalu. Berawal dari penampilan melawan Peru, dengan ia sebagai pencetak gol pembuka, Higuain kemudian tampil reguler di timnas. Ia menjadi pencetak gol tunggal ke gawang Jerman pada duel persahabatan di Muenchen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang