Transjakarta Masih Kacau

Kompas.com - 18/06/2010, 04:30 WIB

Jakarta, Kompas - Operasional angkutan massal transjakarta hingga kini masih kacau. Sejak beroperasi pada 1 Februari 2004, transjakarta terbelenggu oleh sejumlah persoalan mendasar. Peningkatan kualitas pelayanan cenderung mandek karena tidak ada kemauan yang serius dari pemerintah.

Keluhan mengenai operasional transjakarta datang dari pengelola maupun pengguna. Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta Daryati Asrining Rini, Kamis (17/6) di Jakarta, meminta pemerintah melakukan intervensi untuk menetapkan harga bahan bakar gas yang seragam.

Dia mengatakan, harga bahan bakar gas tidak seragam di tingkat stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Ada empat SPBG yang mematok tarif Rp 2.562 per liter setara premium (lsp), sementara dua SPBG lain memasang tarif Rp 3.600 per lsp.

”Saya jelas memilih yang lebih murah. Namun, dengan konsekuensi, kami harus menghabiskan waktu untuk antre selama pengisian. Sebab, hanya empat SPBG yang harganya murah di Jakarta,” katanya.

Dia menuturkan, pengisian gas di empat SPBG ini bisa sampai pukul 04.00. Padahal, katanya, bus harus sudah siap beroperasi pukul 05.00. Empat SPBG itu, kata Rini, sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar transjakrta setiap hari. Apabila salah satu saja dari keempat SPBG ini rusak, maka akan berpengaruh pada operasional bus.

Saat ini transjakarta sangat bergantung pada gas karena 335 bus dari 426 bus yang ada menggunakan bahan bakar gas.

Waktu pengisian bahan bakar gas seharusnya bisa dimanfaatkan untuk perawatan bus. Namun kenyataannya, waktu istirahat bus habis untuk antre di SPBG. Hal ini membuat bus nyaris tidak beristirahat sepanjang hari. Sebagian bus mengisi bahan bakar pada siang hari ketika bus beroperasi. ”Persoalan ini membuat armada yang beroperasi menjadi berkurang,” tutur Rini.

Rini meminta pemerintah tidak membiarkan hal ini terus berlangsung. Persoalan bahan bakar gas ini secara tidak langsung memengaruhi tingkat pelayanan kepada pengguna.

Koordinator Konsorsium Operator Bus Transjakarta Koridor II sampai VIII Azis Riesmaya Mahpud mengatakan, penumpukan ratusan bus di SPBG Jalan Pemuda dan SPBG Jalan Daan Mogot terjadi sejak harga gas yang disuplai PT Perusahaan Gas Negara (PGN) naik, dari Rp 2.562 per lsp menjadi Rp 3.600 per lsp. Kenaikan harga gas itu membuat pengelola SPBG di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Rawa Buaya menaikkan harga gas sesuai harga PT PGN. Adapun harga gas di SPBG Jalan Pemuda dan Jalan Daan Mogot tidak naik karena disuplai PT Pertamina.

Masalahnya, Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta hanya mau mengganti biaya pembelian BBG Rp 2.562 per lsp. Kondisi ini menyebabkan semua bus transjakarta menuju ke SPBG Jalan Pemuda dan Jalan Daan Mogot untuk mengisi BBG. Setiap unit bus membutuhkan dua jam sampai empat jam untuk perjalanan dari rute asal ke kedua SPBG dan untuk waktu tunggu antrean pengisian BBG. Kondisi ini menyebabkan jumlah bus yang digunakan untuk melayani para penumpang berkurang drastis.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengakui adanya masalah selisih harga sehingga terjadi penumpukan bus di dua SPBG. Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berunding dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PT PGN untuk menurunkan harga BBG sehingga pengusaha angkutan umum mau beralih dari BBM ke BBG.

Keluhan pengguna

Keluhan juga datang dari pengguna transjakarta. Mereka mempersoalkan lamanya waktu menunggu bus di masing-masing selter. Keluhan ini terekam dalam survei mengenai pelayanan transjakarta dalam periode Maret 2010 oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Dari 3.000 responden, 41,5 persen di antaranya mengeluhkan antrean di loket ketika membeli tiket naik bus. Para responden menilai lamanya waktu menunggu bus sebagai pengalaman negatif selama menjadi pengguna transjakarta.

”Keluhan paling dominan terjadi ketika pengguna bus menunggu atau antre,” kata Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, mengomentari hasil survei itu.

Keluhan lain yang datang dari responden adalah mengenai kelebihan penumpang di dalam bus yang dirasakan 26,19 persen responden. Para responden juga mempersoalkan jalur yang tidak steril di hampir semua koridor. Hal ini menyebabkan perjalanan bus transjakarta menjadi terhambat sehingga penumpang terlambat sampai ke tempat tujuan. Hal ini dirasakan 12,62 persen responden.

Pemantauan di lapangan, jalur bus transjakarta memang kerap diserobot kendaraan pribadi atau angkutan umum lain. Para pengguna kendaraan pribadi umumnya memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan akses jalur yang cepat dengan memakai jalur busway. (NDY/ECA/ART)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau