Komoditas

Garam Impor Semakin Tinggi

Kompas.com - 18/06/2010, 04:55 WIB

Jakarta, Kompas - Ketergantungan garam impor semakin tinggi seiring pertumbuhan industri kimia dan pangan. Kesenjangan yang terjadi antara suplai dan permintaan merupakan peluang yang perlu dijembatani melalui program kerja sama pihak pengguna dan pemasok bersama petani garam.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan hal itu dalam penandatanganan nota kesepahaman pembangunan industri garam antara Cheetham Salt Limited (Australia) dan Kabupaten Nagekeo (Nusa Tenggara Timur) di Jakarta, Kamis (17/6). Penandatanganan dilakukan oleh CEO Cheetham Andrew Speed dan Bupati Nagekeo Yohanis Samping Aoh dengan disaksikan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Duta Besar Australia untuk Indonesia.

Kerja sama ini dirintis sejak tahun 2008 dengan pembukaan lahan 2.100 hektar, yang merupakan salah satu program Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk meningkatkan produksi garam nasional. Produktivitas garam di daerah ini diperkirakan mencapai 100 ton per hektar per musim atau produksi garam sebanyak 200.000 ton.

Hidayat menyatakan keprihatinannya karena Indonesia yang memiliki garis pantai sekitar 90.000 kilometer masih harus bergantung pada garam impor dari Australia, Jerman, dan India. Dari perhitungan Kemenperin, kebutuhan garam antara lain untuk konsumsi rumah tangga, industri makanan dan minuman, pengeboran minyak, ataupun industri chlor alkali plant (CAP) tahun 2010 diperkirakan mencapai 3 juta ton.

”Kebutuhan garam diperkirakan akan naik menjadi 5 juta ton tahun 2015 seiring pertumbuhan industri kimia dan pangan. Di sisi lain, kemampuan pasok kita hanya 1 juta hingga 1,4 juta ton per tahun. Ada defisit kebutuhan garam yang harus diperoleh dari impor,” ungkap Hidayat.

Ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan garam akan kian besar. Kondisi ini menjadi gugatan antara Kemenperin dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Apalagi, pasokan itu baru diperoleh dari pemanfaatan lahan potensial 20.000 hektar.

Selama kurun waktu enam tahun harga garam meningkat. Hidayat menyebutkan, tahun 2000 harga garam hanya Rp 150.000 per ton. Tahun 2009, harga garam mencapai Rp 330.000-Rp 350.000 per ton. Harga ini lebih tinggi dibandingkan harga garam internasional yang berkisar 20-30 dollar AS per ton. (OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau