Kisah Sara Specx dan Pieter Cortenhoeff, Nyaris Empat Abad Silam

Kompas.com - 18/06/2010, 12:47 WIB


KOMPAS.com -- Stadhuisplein, 19 Juni 1629. Warga Batavia menyaksikan sebuah pemandangan yang menegangkan. Pemandangan itu adalah eksekusi mati seorang serdadu muda yang biasa menjaga balai kota Batavia, tempat di mana Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen tinggal. Si prajurit muda yang tampan itu tak lain adalah Pieter J Cortenhoeff. Ia menemui ajal di hadapan warga Batavia karena terlibat asmara yang panas dengan bocah cilik putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx. Gadis kecil itu bernama Sara Specx.

           

Sara Specx berusia 12 tahun saat tinggal di Batavia. Hatinya runtuh melihat ketampanan Cortenhoeff, setiap hari. Hingga akhirnya malam itu pun tiba. Malam di mana dua insan yang sedang dimabuk asmara itu lupa daratan. Tak tanggung-tanggung, Specx dan Cortenhoeff melakukannya di rumah Jan Pieterszoon Coen. Mengetahui dan mendengarhal itu, beranglah Coen. Ia lantas memerintahkan untuk menggantung keduanya.

           

Di abad itu, norma dan ajaran agama masih dipegang kuat sehingga kelakuan Sara dan Pieter tak bisa lagi ditolerir. Raad van Justitie pun segera bergerak. Setelah melakukan sidang terhadap kasus tersebut, maka pada 18 Juni 1692 Raad van Justitie pun menetapkan keduanya bersalah. Jika Pieter dihukum gantung di halaman balai kota (stadhuisplein), maka Sara dihukum cambuk di hadapan warga Batavia di gerbang balai kota Batavia. Demikian diikisahkan Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta.

           

Bicara soal Balai Kota Batavia di atas, ini terkait dengan gedung balai kota kedua yang menggantikan Kastil Batavia di tepi Sungai Ciliwung di utara Batavia. Tak lama setelah pengadilan bagi kedua insan tadi, ayah Sara, Jacques Specx menggantikan JP Coen sebagai gubernur jenderal.     

           

Dari Sara Specx, berlanjut ke Kali Semut, lokasinya kini di sepanjang belakang gedung BNI Kota. Kali ini di sebetulnya parit yang mengelilingi tembok Kota Batavia. Di parit itulah tersimpan benda pertahanan yang tak diketahui musuh. Apakah benda itu? Semua ini bisa disaksikan dalam perhelatan Batavia Art Festival (BAF) 19-20 Juni 2010.

           

Kisah cinta Sara Specx dan Pieter Cortenhoeff merupakan kisah asmara yang akan terus diminati berbagai generasi. Masih banyak misteri yang menyelimuti kisah cinta mereka.

           

Selain tentang Sara Specx dan tempatnya memadu kasih dengan Pieter serta lokasi mereka dijatuhi hukuman, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua juga memamerkan sejarah Kali Semut.

           

Bukan hanya Kali Semut, tapi juga Kalibesar, kanal yang membelah Batavia. Kalibesar tak hanya terkenal sebagai jalur transportasi tapi juga tempat mencuci kuda, bahkan tempat buang air kecil dan besar. “Kita mau menampilkan suasana Batavia dengan gambaran masa kini. Bahwa urusan seperti Luna Maya dan Ariel sudah terjadi juga sejak abad 17, bahwa orang masa itu belum kenal kakus. Kita juga akan buka nanti, di mana para gubernur jenderal dan anak buahnya buang air. Karena di gedung ini (Museum Sejarah Jakarta-MSJ) tidak terlihat tanda-tanda adanya kakus,” jelas Kepala UPT Kota Tua Candrian Attahiyyat.

           

Dalam kesempatan terpisah Kepala UPT MSJ Rafael Nadapdap menyatakan, BAF akan dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Arie Budhiman. “Pembukaan pk 10.00 hari Sabtu 19 Juni,” tambahnya, BAF kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kali ini digelar dua hari.

           

Acara tersebut digelar pertama kali pada 2002, dua kali setahun. Kali ini adalah pergelaran BAF yang ke 14 karena penyelenggaraan BAF kemudian hanya digelar sekali setahun yaitu dalam rangka HUT Kota Jakarta.   

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau