KOMPAS.com - Kadang berdagang adalah urusan kecerdikan. Apalagi kalau pesaing kita sudah menang dalam kemasan atau packaging. Lebih atraktif, mengerti cara menampilkan sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi begitu memikat, serta pandai pula menarik pelanggan. Memiliki begitu banyak komoditas luar biasa—tetapi tak mampu menampilkan keluarbiasaannya—akhirnya menjadi sesuatu yang kurang berarti.
Mencoba cerdik. Itulah yang dilakukan oleh Setyawan, pengusaha penyelenggara pameran (professional conference organizer/PCO) untuk Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2010, dan Yusuf Sulaimi, pegawai Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
”Begini Sir, kalau Anda datang ke Malaysia, Anda cuma dapat melihat wilayah yang sebegini kecil (tangannya menunjuk-nunjuk peta). Tetapi coba kalau Anda datang ke Indonesia. Lihat, Anda punya banyak pilihan. Dari sini (tangannya menunjuk Aceh) sampai ke sini (telunjuknya menunjuk Papua). Wilayah negara kita hampir sama dari Paris sampai ke Dubai,” ujar Setyawan.
Demi membuat si pengunjung makin terkagum-kagum, Yusuf pun menimpali, ”Sir, kita punya banyak sekali pulau. Paling tidak 17.500 pulau, termasuk pulau kecil-kecil ini (tangannya kembali menunjuk- nunjuk titik-titik kecil di peta).”
Si orang Arab takjub. ”Wow. Banyak sekali. Apakah negara Anda juga menjual pulau?” kata orang Arab tersebut.
Setyawan dan Yusuf tersenyum nyengir. ”Tidak, Sir,” jawab keduanya buru-buru.
Peristiwa itu terjadi ketika keduanya menjaga stan Indonesia di ATM Dubai 2010, awal Mei lalu. ATM merupakan pameran pariwisata terbesar di kawasan Timur Tengah yang tahun ini diikuti oleh 2.100 perusahaan dari 72 negara di lima benua dunia.
Kreativitas Setyawan dan Yusuf ”menjual” Indonesia memang layak diapresiasi. Apalagi ketika harus bersaing dengan stan negeri tetangga yang memang luar biasa atraktif. Malaysia—yang berada persis di samping kanan Indonesia—menampilkan rumah adat Melayu dua lantai, dengan detail ukiran yang menghias atap serta meja-meja pertemuan bisnis mereka. Terasa meriah dengan iringan irama Melayu serta lenggak-lenggok penari cantik dan tampan yang unjuk kebolehan di depan stan. Aksi yang tak pelak lagi mengundang kerumunan pengunjung pameran.
Riuhnya stan tetangga sebelah (Malaysia) membuat stan Indonesia terasa monoton. Dua meja resepsionis (penerima tamu)—di kanan kiri pintu utama stan—sesekali dihampiri pengunjung. Abang None Jakarta menjaga meja resepsionis sebelah kiri, sementara resepsionis sebelah kanan terkadang dibiarkan melompong. Sebuah televisi diletakkan di depan stan, memutar film dokumenter pariwisata Indonesia. Meja-meja penerima tamu beberapa terisi dan beberapa kosong.
Tak ada semarak atau keriuhan, kecuali di salah satu sudut belakang stan tempat kopi dan beberapa camilan Indonesia disuguhkan, cukup ramai dihampiri pengunjung.
Indonesia hadir membawa 24 perusahaan, baik hotel, agen perjalanan (travel agent), dan juga perwakilan pemerintah, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Menempati areal seluas 200 meter persegi, stan Indonesia terlihat sangat sederhana ketimbang stan lain, terutama milik tuan rumah (Dubai, Abu Dhabi, Sharjah, perusahaan penerbangan Emirates).
Sementara itu, untuk kelompok negara Asia, Thailand, India, dan Malaysia adalah pemegang space terbesar. Thailand— meski negerinya sedang dilanda kisruh politik—tetap tampil dengan segar, semarak dengan hiasan bunga-bunga tropis. Demikian pula India dengan ”Incredible India”-nya. Meski kalah besar dengan Thailand dan India, Malaysia tak kalah menarik, terutama dengan atraksi-atraksi budaya yang dibawa.
Malaysia memang serius menggarap pasar wisata Timur Tengah. Menurut Kepala Subdit Pemasaran Luar Negeri untuk Timur Tengah dan Afrika, Sofia Rita, Timur Tengah merupakan pasar utama wisata di Malaysia. Ini sesuai dengan data bahwa Malaysia merupakan negara pertama orang-orang Timur Tengah menghabiskan uang. Setelah itu, Singapura dan Thailand menjadi negara kedua dan ketiga tujuan wisata orang Arab. Baru kemudian Indonesia di peringkat keempat.
”Saingan kita yang sebenarnya adalah Malaysia,” katanya.
Derasnya arus wisatawan Timur Tengah ke Malaysia terjadi pascaruntuhnya Gedung World Trade Center pada 11 September 2001. Malaysia mampu menangkap peluang itu.
Indonesia sendiri baru serius menggarap pasar Timur Tengah sekitar 2006. Saat itu, pasar Eropa dan Amerika Serikat yang selama ini menjadi tamu primadona sudah mengalami penurunan, baik terkait isu terorisme maupun kondisi krisis global yang melanda belakangan ini. Diakui ataupun tidak, Indonesia memang agak terlambat menggarap potensi ini.
Bukan melulu TKI
Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Wahid Supriyadi mengungkapkan, potensi wisatawan Timur Tengah sebenarnya sangat besar dari Abu Dhabi, tempat orang-orang kaya Arab bermukim. Mereka berpotensi membelanjakan uangnya dalam jumlah banyak mengingat rata-rata orang Timur Tengah berlibur cukup lama, sepanjang musim panas.
Menurut dia, orang Arab berlibur ketika musim panas ketika negerinya ”mendidih” oleh suhu hingga 50 derajat celsius. Ini biasanya terjadi pada akhir bulan Juni hingga pertengahan Agustus. Ecotourism, olahraga golf, dan wisata belanja adalah hal yang dicari orang-orang ini.
Potensi ini, tambah Wahid, selama ini memang tak disadari. Timur Tengah selalu identik dengan urusan TKI. Padahal, sebenarnya banyak bidang kerja sama yang bisa dikembangkan. Hanya saja, kabar tentang bencana (gempa bumi dan tsunami) serta keamanan (teroris) kadang menjadi persoalan.
Wahid mengisahkan pengalamannya mengundang 150 pengusaha Uni Emirat Arab ke Jakarta untuk menjajaki kerja sama bisnis. Ketika itu, gempa Padang melanda. ”Banyak yang mengundurkan diri. Lalu saya datangi ahli geologi. Kita memang tidak bisa menyangkal, tetapi siklus gempa ini kan panjang. Yang terjadi di satu daerah tidak terjadi di daerah lain. Kita ini dari Dubai sampai Paris punya tiga perbedaan waktu. Saya jelaskan itu. Akhirnya mereka bersedia datang. Ada 127 pengusaha yang hadir di Kemayoran,” ungkapnya.
Kedua isu terorisme. Soal ini, Wahid Supriyadi dalam berbagai presentasi sering kali mengutip penelitian The Economist, survei mengenai tingkat keamanan negara. Indonesia, menurut The Economist, teraman ke-67 di dunia, jauh meninggalkan Amerika yang menduduki peringkat ke-83 dan Filipina ke-102. Tetapi tertinggal dengan India yang menduduki peringkat ke-42 teraman di dunia.
Dua persoalan di atas memang umum ditanyakan turis asing ketika hendak ke Indonesia. Herna P Danuningrat dari Ketua DPD Agen Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DKI Jakarta juga mengalami hal yang sama. Oleh karena itu, menurut dia, Indonesia membutuhkan komunikator yang andal untuk meyakinkan bahwa kedua hal tersebut tak selayaknya membuat orang mundur atau batal berkunjung ke Indonesia.
Mempromosikan Indonesia melalui kegiatan-kegiatan pameran internasional pun akan efektif. Menurut Wahid, setidaknya terdapat 100 kegiatan pameran dalam satu tahun, mulai dari pameran pariwisata hingga industri di Uni Emirat Arab.
Persoalannya, anggaran yang tersedia terbatas. Sofia Rita mengaku kewalahan dengan minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah. Ia mengatakan, anggaran promosi untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika sekitar Rp 12 miliar, yang direncanakan untuk 11 kegiatan promosi. Untuk ATM Dubai, pemerintah hanya mengalokasikan dana Rp 1,1 miliar. Ini untuk menyewa stan dengan harga 450 dollar per meter (Indonesia 200 meter persegi), belum lagi biaya transportasi dan akomodasi rombongan petugas yang relatif besar.
Coba bandingkan dengan negeri tetangga Malaysia. Dengan luas stan tiga kali lipat dari Indonesia, mereka juga menyewa stage untuk pertunjukan tari-tarian tradisional yang tarifnya per setengah jam 2.500 dollar AS, membawa rombongan penari, dan lainnya.
Identitas nasional
Hanya saja, perlu penggarapan serius untuk memanfaatkan momen-momen seperti ini. Paling tidak, menurut Bambang Sugiono dari Gajah Bali Tour, penggarapan harus tepat dan mengena sasaran. Pada ATM Dubai 2010, Bambang melihat beberapa kekurangan, seperti tidak tampaknya identitas kebudayaan nasional Indonesia. Padahal, wisata budaya bisa menjadi jualan yang menarik seperti yang dilakukan oleh Malaysia dan Thailand.
Menurut dia, minimnya anggaran bisa disiasati, misalnya, apabila biaya transportasi dan akomodasi rombongan penari menjadi beban, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bisa memanfaatkan orang-orang lokal Dubai untuk menari tarian tradisional Indonesia. Misalnya, warga negara Indonesia yang tinggal di Dubai atau menyewa orang-orang Filipina menarikan tarian kita.
Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, Hisyam Alie Abdul Hadi, yang turut serta memantau pelaksanaan ATM Dubai 2010, mengungkapkan, anggaran memang merupakan persoalan klasik dalam banyak hal, termasuk dalam promosi pariwisata. Namun, persoalan ini sebenarnya dapat diatasi dengan membagi beban biaya promosi dengan pemerintah daerah. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, tambah Hisyam, dapat bekerja sama dengan pemerintah provinsi atau kabupaten/kota yang tertarik ingin mempromosikan daerahnya.
”Ini bisa dilakukan secara bergiliran. Mereka bisa menampilkan keunggulan-keunggulan wisata yang dimiliki,” ujar Hisyam.
Barangkali hal ini memang layak dipikirkan, terutama untuk kawasan Timur Tengah, negeri kaya penghasil minyak. Dengan demikian, nantinya Indonesia tak hanya dikenal sebagai negeri pengekspor terbesar pembantu, tetapi juga keelokan negerinya, keramahan orang-orangnya, dan tingginya peradaban yang diwariskan leluhurnya. (Susana Rita)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang