Andi: Demokrat Datang di Waktu Tepat

Kompas.com - 18/06/2010, 18:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi Pemilihan Umum, Andi Nurpati, yang dipilih menjadi pengurus Partai Demokrat membantah penilaian bahwa ia tidak independen selama menjalankan tugasnya sebagai penyelenggara pemilu. Ia mengatakan, penilaian tersebut tidak berdasar. Ia tidak merasa telah berpihak pada partai manapun dan semua kebijakan yang diambil KPU adalah sesuai dengan ketentuan.

Demikian kata Andi saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung KPU di Jakarta, Jumat (18/6/2010). Ia menegaskan, apa yang dikerjakan KPU sebagai penyelenggara pemilu telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selama menjabat sebagai anggota, Andi menilai dirinya tetap profesional.

Jika kemudian Partai Demokrat menawarkan jabatan dalam kepengurusan partai, ia menilai pasti ada penilaian tersendiri dari pihak Partai Demokrat sehingga memercayakan jabatan Ketua Divisi Komunikasi Publik kepadanya. Andi menuturkan, awalnya ia mendapat tawaran dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum untuk menjadi bagian dari pengurus partai. Ia mengaku dihubungi oleh Anas pada Senin (14/6/2010).

"Saya tidak menyangka. Ini kejutan bagi saya. Saya dihubungi Mas Anas, Senin sore sekitar pukul 15.00. Saat itu posisi saya di Bengkulu. Beliau menanyakan apakah bersedia bergabung menjadi pengurus," katanya.

Saat itu, Andi menjawab tawaran tersebut dengan ucapan terima kasih dan perasaan bangga karena telah mendapatkan kepercayaan dari partai pemenang pemilu tersebut. Meskipun demikian, Andi belum mendapat informasi tentang posisi yang dia duduki nantinya. Kemudian, pada Rabu (16/6/2010), Andi kembali dihubungi oleh Anas untuk memastikan kesediaannya menjadi pengurus partai. "Saya menyatakan insya Allah siap," katanya.

Ketika ditanya kapan terakhir bertemu dengan Anas, Andi mengaku saat pelantikan anggota DPR pada Oktober 2009. Setelah itu, ia mengaku tidak terlalu sering berkomunikasi dengaan Anas. "Kalau komunikasi dengan Partai Demokrat sering, tapi itu terkait dengan tugas-tugas penyelenggara pemilu," paparnya.

Ketika ditanya apakah ada tawaran dari partai lain untuk bergabung, Andi membenarkan bahwa ia menerima sejumlah pinangan dari partai setelah pemilu selesai. Namun ia tidak menyebutkan partai yang dimaksud. Tawaran dari sejumlah partai tersebut ditolak dengan alasan belum ada posisi yang cocok. Selain itu, Andi belum memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

"Bisa jadi tawaran partai lain tidak pas posisinya dan waktunya juga. Mungkin soal kesibukan yang menjadi pertimbangan saya. Persoalan pasti atau tidak untuk mau masuk ke partai, saat itu saya belum fokus betul masuk ke dunia politik," katanya.

Ia mengatakan, alasan bergabung dengan Partai Demokrat adalah partai tersebut memberikan posisi yang sesuai dan pada saat yang tepat, yakni ketika ia telah mantap untuk berkiprah di dunia politik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau