Catastrophe!” (Malapetaka), ”
Bukan hanya di media cetak, kekalahan memalukan Perancis juga menjadi topik pembicaraan yang hangat di hampir semua stasiun televisi dan radio.
Mayoritas pendengar radio dan pemirsa di televisi mengecam, memaki, dan mengkritik penampilan tim kesayangan mereka. Tak ada lagi kata pujian dan pesta sukaria.
Suasana ini tentunya sangat kontras ketika Perancis tampil sebagai juara dunia pada tahun 1998 lalu. Ketika itu semua orang hanya melontarkan kata-kata pujian. Saat itu semua orang berpesta.
Terlepas dari tanggapan negatif publik, tim Perancis bermain sangat buruk. Permainan mereka tak terkoordinasi, serangan yang dibangun tidak taktis dan gagal menciptakan peluang yang berbahaya karena miskin kreasi serangan.
Sebaliknya, Meksiko tampil penuh semangat dan percaya diri, terutama di babak kedua. Mereka mencetak gol melalui Javier Hernandez pada menit ke-64, dan eksekusi penalti Cuauhtemoc Blanco pada menit ke-79.
”Kami merasa seperti tim anak bawang. Ini menyakitkan. Tidak ada yang bisa dikatakan, selain menyebut hasil ini sebagai
Sehari sebelum pertandingan, Evra sempat berkomentar bahwa timnya cukup solid dan akan terus bertahan di Piala Dunia. ”Ternyata saya salah, kami bukan tim yang hebat di lapangan,” ujarnya mengakui.
Soal kondisi tim, Evra juga mengakui, atmosfer tim tidak terlalu bagus sejak tampil di babak kualifikasi.
Bagi Perancis, kekalahan ini semakin memojokkan posisi mereka. Mereka bahkan terancam tersingkir dari Piala Dunia. Situasi ini hampir sama dengan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.
Delapan tahun lalu ”Les Bleus” pulang lebih awal dengan membawa pulang hasil yang sangat memalukan. Datang dengan status juara bertahan, tim ”Ayam Jantan” justru hanya mampu meraih satu poin. Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka tidak pernah mencetak gol dan gawangnya kebobolan tiga kali.
Situasi sekarang, Perancis yang di laga perdana ditahan imbang 0-0 oleh Uruguay tidak punya pilihan harus menang melawan tuan rumah Afrika Selatan. Namun, kemenangan itu pun belum cukup memastikan mereka lolos ke perdelapan final.
Nasib mereka juga sangat bergantung dari hasil pertandingan antara Uruguay dan Meksiko. Jika keduanya bermain imbang, Perancis tersingkir.
Namun jika ada salah satu tim yang menang, selisih gol harus diperhitungkan. Oleh karena itu, Perancis juga harus menang besar dari Afrika Selatan.
Pelatih Perancis Raymond Domenech tak punya banyak pilihan kata mengomentari kekalahan timnya. ”Kami kecewa dan sedih,” ujarnya. Domenech, yang sejak lama menuai kritik pers Perancis, tidak bisa membayangkan penampilan timnya yang tidak mampu membuat banyak peluang dan kalah dengan cara terhormat.
Evra menambahkan, laga terakhir hanya untuk harga diri. ”Demi harga diri kami harus menang. Soal keajaiban, secara personal saya tidak yakin,” ujarnya. Harga diri Perancis memang pantas dipertaruhkan. Sebagai juara dunia 1998, juara Eropa 2000, dan