Inggris Benar-benar di Ujung Tanduk

Kompas.com - 20/06/2010, 04:16 WIB

Suasana di depan ruang ganti pemain Inggris tiba-tiba ricuh, Sabtu (18/6) dini hari WIB. Seorang suporter tim ”Tiga Singa ” itu memaksa masuk ke dalam ruangan karena kecewa atas hasil seri 0-0 yang digapai Steven Gerrard dan kawan-kawan malam itu saat melawan Aljazair pada laga Grup C Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Pendukung Inggris

pantas kecewa. Jangankan mencetak gol, tampil bagus saja terasa begitu sulit bagi anak asuh Fabio Capello ini. Padahal, kemenangan menjadi opsi tak terbantahkan bagi tim ”St George Cross” setelah mencatat hasil seri 1-1 pada laga pertama melawan Amerika Serikat.

Inggris pun kini dalam tekanan. Di klasemen sementara Grup C, Gerrard dan kawan- kawan baru mencatat dua poin dan berada di posisi ketiga di bawah pemimpin klasemen Slovenia dengan empat poin dan AS yang juga baru meraih dua angka. Hanya kemenangan melawan Slovenia pada laga akhir penyisihan, Rabu (23/6), yang bisa menyelamatkan Inggris dari ketersingkiran tragis.

Di pihak lain, Slovenia, lawan Inggris pada laga ketiga, hanya butuh hasil imbang untuk lolos. Adapun tim AS yang menyisakan laga dengan Aljazair juga perlu kemenangan untuk melaju ke 16 besar. Landon Donovan dan kawan-kawan lebih banyak mencetak gol, dengan produktivitas 3-3, ketimbang Inggris dengan posisi 1-1.

”Tim ini bermain gemilang saat di kualifikasi, tetapi tak begitu bagus justru di momen saat ini. Entahlah kalau ini karena tekanan atau mungkin kami belum berada di momen yang bagus. Kami banyak kehilangan bola. Ini sungguh tim yang tak sama dengan yang saya kenal,” ujar Capello.

Keraguan terhadap kiprah Capello bersama tim asuhannya di Piala Dunia pun mulai mengemuka. Padahal, hasil impresif Inggris di babak kualifikasi Piala Dunia dengan delapan kemenangan beruntun sempat melambungkan harapan kepada Capello untuk meraih hasil tertinggi di Afsel.

Tanpa spirit

Melawan Aljazair yang tak diunggulkan, Inggris terlihat tanpa spirit. Kemampuan teknis kumpulan bintang-bintang liga Inggris, seperti Gerrard, Frank Lampard, Gareth Barry, Ashley Cole, dan sang striker Wayne Rooney, tenggelam. Yang terlihat justru pertunjukan salah umpan dan kebingungan begitu mendekati kotak penalti. Aljazair yang bertahan dan hanya sesekali menyerang makin menyulitkan kreasi tim Inggris.

Tak ada terobosan, miskin skill, juga kreativitas. Pemain Inggris juga tak tampak gembira. Rooney dan Gerrard yang diharapkan menjadi simpul utama serangan terlihat hanya berlarian ke sana kemari di sekitar kotak penalti nyaris tanpa peluang emas. Frank Lampard di tengah dan Lennon di kanan pun tak banyak memberi umpan matang kepada duet Rooney-Heskey. Umpan-umpan tusukan yang monoton dari lini kedua begitu mudah terbentur barisan belakang Aljazair yang dipimpin Majid Bougherra.

Pada babak kedua, Capello menurunkan tiga penyerang sekaligus: Peter Crouch menggantikan Barry, Jermaine Defoe menggantikan Heskey, serta Rooney.

Namun, formasi yang lebih menyerang itu tak jua membantu Inggris mencetak gol. Crouch yang andal menyundul bola atas tak banyak mencetak peluang karena minimnya umpan dari sayap. Fuad Kadir dan Hassan Yebda mematikan pergerakan sayap Inggris. Lampard, kunci sukses Chelsea di Liga Inggris, pun seperti tak tahu mesti berbuat apa.

Secara umum, penampilan Inggris malam itu seakan menjadi pembenaran pernyataan Franz Beckenbauer. ”Menurut saya, Inggris justru mundur ke masa lalu dengan sepak bola kick and rush. Tak banyak yang mereka lakukan dengan sepak bola,” kata Beckenbauer awal pekan lalu.

Beckenbauer juga tak yakin Capello dapat mengubah gaya anak asuhnya agar bermain lebih moderat. Hal itu setidaknya terbukti dalam laga melawan Aljazair kemarin.

Bagi Aljazair, hasil seri ini masih memantikkan harapan bagi mereka untuk lolos ke babak kedua meski peluangnya kecil karena baru merangkai satu poin. Bagi Inggris, laga ketiga melawan Slovenia di Stadion Port Elizabeth bakal menjadi partai hidup-mati. ”Kami tahu apa yang telah kami lakukan. Kami harus menang pada laga terakhir di tengah tekanan yang terus bertambah,” ujar Gerrard. (HAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau